Areal Seluas 2500 Hektar Untuk Garam Industri di Malaka

Kabupaten Malaka merupakan satu dari 22 kabupaten di propinsi Nusa Tenggara Timur yang potensial untuk dikembangkan industri garam. Daerah yang selama ini heboh ke publik karena gerakan optimalisasi pertanian lahan kering dan program “Revolusi Pertanian” besutan Bupati  Stef Bria  Seran itu juga ternyata produktif untuk industri garam.

Potensi yang besar ini memantik niat Gubernur NTT Victor Laiskodat untuk secepatnya berkunjung ke daerah itu usai dilantik Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Selasa (5/9). Malaka adalah kabupaten ketiga yang dikunjungi  gubernur setelah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Waingapu, Sumba Timur.

Sosok energik itu  memang langsung “tancap gas” dan praktis menemui kelompok masyarakat di desa- desa. Tak pelak, kunjungan perdana gubernur ke Malaka itu juga dimanfaatkan untuk meresmikan pilot project tambak garam yang dikembangkan PT. Inti Daya Kencana.

Dia bahkan langsung  meninjau bentangan tambak garam industri yang berlokasi di Desa Rabasa, Kecamatan Malaka Barat dan memotivasi masyarakat untuk mendukung rencana investasi didaerah setempat.

“Mari tunjukkan kepada Indonesia bahwa kita bisa beri garam dari NTT. Maret tahun depan, saya datang panen garam. Masyarakat siap?” begitu pekik Gubernur Viktor Laiskodat,SH,M.Si mengajak masyarakat ikut mendukung proyek tambak garam industri itu

Saat itu Gubernur Laiskodat meminta komitmen mengembangkan usaha dari Harry Kristanto selaku  Presiden Direktur PT. Inti Daya Kencana. Dia bahkan sempat menolak untuk menekan tombol pompa reservoar sebagai tanda peresmian, sebelum melihat tambak.

Sementara Harry Kristanto saat itu mengatakan pihaknya mengelola 32 hektar. Luasan itu merupakan tambak pilot project dan menjadi salah satu lokasi usaha yang berada di tiga zona.

“Saat ini sudah dibebaskan 1.100 hektar lahan masyarakat. Target seluruh lahan adalah seluas 2.500 hektar yang berada di 16 desa dalam empat kecamatan. Tiga zona dimaksud berada dalam bentangan pantai Kecamatan Kobalima, Malaka Tengah, Malaka Barat dan Wewiku.” ujar Krsitanto.

Menurutnya kualitas garam Malaka tidak diragukan. “Jika dibandingkan Madura, kualitas garam Malaka lebih unggul karena memiliki musim panas yang lebih panjang, 10 bulan. Tanah liatnya juga bagus sebagai endapan,” jelas Harry Kristanto.

Dia juga mengakui kemudahan berusaha di Malaka karena sumber daya tenaga kerja cukup berlimpah.

Tenaga kerja banyak. Kendala kami adalah soal pembebasan lahan yang masih membutuhkan sosialisasi lebih luas. Kami akan membuat surat keterangan tanah atas nama mereka sendiri,” tambah Presiden Direktur PT. Inti Daya Kencana itu. (Sipers Humas Setda NTT/Advterorial)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *