Rp 50 Miliar Cukupkah Untuk Tata Destinasi dan Promosi Wisata NTT?

Pariwisata NTT makin heboh. “Buah bibir” tentang kemolekan NTT memantik tanya banyak pihak. Calon wisatawan tentu ingin segera mengunjungi spot-spot wisata daerah ini yang konon namanya mendunia karena promosi. Lantas apakah NTT sudah siap secara “ilmu pariwisata” dan jadi sebuah destinasi wisata yang ideal?

Jawabanya pasti tertuju pada aspek 3A yang harus dipenuhi. Ya dukungan Asksesibilitas, Amenitas dan Atraksi menjadi syarat mutlak sebuah destinasi yang ingin  maju dan menyenangkan. Harus diakui NTT punya potensi yang mendunia namun masih terbatas dari sisi dukungan 3A tersebut. Anggaran yang terbatas diyakini jadi tantangan tersendiri bagi tim perencana dan TAPD propinisi, apakah harus gelontorkan budget untuk tata destinasi wisatanya dahulu atau genjot promosi?

Bicara NTT ada Sumba, Flores, Sumba, Alor, Lembata dan kepulauan sekitar. Ada ratusan bahkan ribuan pulau jadi milik propinsi ini meski sampai saat ini kebijakan menjadikan NTT sebagai “Propinsi Kepulauan” belum diakomodir secara politik maupun regulasi. Lupakan.

Nah pola pembangunan pariwisata NTT selama ini masih mengedepankan konsep kawasan dengan “ jualan” masing-masing daya tarik wisatanya. Faktanya semua klaster baik di Sumba, Flores dan Timor mulai disentuh dari sisi penataan destinasinya maupun promosi. Meski kecil, objek wisata unggulan diperhatikan, diangkat ke permukaaan melaui media promosi ataupun melalui pagelaran event. Belum maksimal pastinya.

Kekurangan dan keterbatasan tentu saja ada terutama soal penataan destinasi yang masih minim karena dukungan anggaran yang terbatas. Kualitas SDM kita juga tentu masih perlu ditingkatkan dan masih jadi pekerjaan rumah bagi kepemimpinan NTT yang baru dipundak Gubernur Victor Laiskodat dan Wakil Gubernur Joseph Nae Soi (Paket Victory Joss).

Dalam berbagai kesempatan Gubernur Victor dan Wakil Gubernur Josep selalu menekankan aspek penataan dan kesiapan destinasi menjadi kebutuhan utama sebelum promosi. Hal ini tentunya beralasan karena apalah artinya sebuah promosi yang heboh sementara destinasi wisata kita masih apa adanya. Fasilitas dasar belum dibangun, akses ke destinasi masih sulit serta SDM pariwisata kita di destinasi-destinasi masih sangat minim.

Dengan fakta yang ada maka tekad pasangan ini  untuk mengelontorkan anggaran besar menata sektor pariwisata mesti diapresiasi. Kabar beredar bahwa saat ini rencana pengalokasian anggaran untuk penataan destinasi wisata dari pos APBD melalui Dinas Pariwisata NTT mencapai Rp 50 miliar . Angka ini tentu jauh lebih fantastis jika dibandingkan dengan alokasi sebelumnya yang kisarannya hanya Rp 15 miliar. Tak heran, keterbatasan anggaran ini jadi pemicu destinasi-destinasi wisata NTT nampak “jalan ditempat”.  Salah siapa?

Harus diakui, program penataan ini dalam rangka mendukung kerja besar melahirkan Branding NTT sebagai 1 dari 10 destinasi unggulan baru Pariwisata Indonesia. Memang tidak salah juga bahwa dengan promosi selama ini propinsi NTT mempunyai bergaining yang kuat dimata pemerintah pusat. Dengan Rp 15 miliar saja bisa bikin NTT populer, kita yakin kalau benar alokasi anggarannya mencapai  Rp 50 miliar maka NTT bisa “terbang”. Pertanyaannya cukupkah dana Rp 50 Miliar itu untuk menata semua destinasi wisata “unggulan” di 22 kabupatena/kota di NTT? Mari ber asumsi

Dana super jumbo mulai digelontorkan Jakarta untuk menata banyak destinasi di NTT. Labuan Bajo sebagai “laboratorium” pariwisata NTT kini terus dibenahi. Anggaran ratusan miliar bahkan trilunan rupiah dari semua sektor digelontorkan kesana untuk perbaikan infrastruktur, penataan destinasi dan peningkatan kualifikasi SDM pengelola pariwisata kita. Pembenahan ini wajib dan linear dengan Iklim Investasi swasta dibidang pariwisata di Labuan Bajo dan Flores umumnya yang terkoreksi bergeliat tajam.

Hal yang sama dirasakan masyarakat Sumba. Dengan pagelaran event Festival Tenun Ikat dan Parade Seribu Satu Kuda  di Sumba maka mata nasional terbuka; dunia memuji Sumba sebagai pulau terindah. Banyak orang mulai datang dan menikmati keindahan Sumba sesungguhnya. Investasi meningkat. Bandara Tambolaka kini makin ramai bahkan lagi diperjuangkan menjadi bandara internasional. Hotel mewah Nihiwatu yang sebelumnya masih “sangat tertutup”kini terbuka untuk umum dan bahkan menyabet predikat sebagai Hotel Terbaik Dunia versi TripAdvisor. Sumba yang eksotik kini tetap bertengger dikelasnya.

Di pulau Timor, kota Kupang menerima tumpahan kemajuan pembangunan pariwisata.  Bangunan hotel dan restoran tumbuh pesat di kota ini. Di semua sudut kota usaha-usaha jasa pariwisata berkembang. Pusat-pusat hiburan, pusat kuliner dan UKM pariwisata meningkat tajam seiring dengan kemajuan ekonomi dan daya beli warga yang membaik. Bandara El Tari yang lima tahun sebelumnya tak pernah ada pesawat yang nginap kini apronnya terisi full 12 pesawat.

Pantai Lasiana yang sebelumnya sepi pengunjung telah kembali rohnya sebagai destinasi wisata pantai utama dikota Kupang meski kini pungutan retribusinya dihentikan sementara tanpa alasan jelas.  Ini bukti bahwa kota ini mulai terbuka industri pariwisatanya. Hal yang sama dirasakan sesama saudara di Wini, Timor Tengah Utara dan Motaain kabupaten Belu yang kini menjadi beranda NKRI. Wini dan Motaain telah menjadi destinasi wisata perbatasan selain karena tarik batas negara tetapi juga terpesona oleh kemegahan infrastrukturnya. Para pengunjung dari negara Timor Leste terus berdatangan dari waktu ke waktu ke NTT untuk berwisata belanja juga urusan budaya dan keluarga.

Fakta-fakta ini tentu menjadi kekuatan awal untuk NTT baru bersama pasangan Gubernur NTT yang baru Victor B.Laiskodat dan Wakil Gubernur Joseph Nae Soi. Dengan mengedepankan pariwisata sebagai leading sector menjadi angin segar untuk mendorong sektor pariwisata sebagai lokomotif yang bisa menarik gerbong-gerbong lain.

Kepemimpinan Pak Victor dan pak Joseph dengan seluruh sumber daya, pengalaman dan kekuatan jaringan kerja yang ada dipusat diyakini semakin mempercepat pembangunan sektor ini. Kita dukung kebijakan pemerintahan NTT baru yang menaruh perhatian serius pada penataan destinasi dan infrastruktur. Dengan demikian semakin memudahkan wisatawan ketika ke NTT. Antara aspek promosi dan kesiapan destinasi memang harus berimbang. Pariwisata harus benar-benar jadi sebuah industri dan sumber ekonomi yang bisa mensejatherakan rakyat.

Tentu satu harapan bersama bahwa kterlibatan semua pihak terutama mitra pariwisata semisal ASITA, HPI, PHRI, Airlines, Mass Media, Appindo dan juga stakeholder lainnya. Semua pihak kita yakin akan bahu membahu menjadi “duta wisata” kita kalau aspek-aspek pendukung kemajuan industri pariwisata sudah siap.

Manakala destinasinya sudah ditata baik maka promosi akan terkover didalamnya, karena semua wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata itu akan berkesan baik. Kesan baik itulah yang ditularkan ke semua orang dan jadi promosi yang baik pula untuk pariwisata kita. Tata destinasi dan  promosi harus sejalan.

Kedepan semua elemen ini harus tetap bersama pemimpin NTT yang baru menggelorakan satu semangat yang bermuara pada visi kebangkitan pariwisata NTT sebagai Nusa Tenggara Terindah (*)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *