Kerjasama Pariwisata Selatan-Selatan Ala Victor – Josef

Para Wisatawan Australia memadati pantai Nemberala di Rote Ndao untuk berselancar. Fotp Fortuna

NTT negeri paling eksotis namun belum cukup bermanfaat secara ekonomi buat rakyat. Gagasan baru Gubernur NTT Victor Laiskodat dan Wakil Gubernur Joseph Nae Soi soal pariwisata nampak bernas dan visioner. Benar bahwa urusan penataan destinasi dan SDM adalah utama, sementara promosi wisata internasional harus lebih menyasar ke kerjasama link Selatan –Selatan dunia. Hal ini didasari fakta bahwa pangsa pasar wisata terdekat NTT adalah Australia, New Zeland, Timor Leste serta Pasific Islands. Akses ke negara- negara itu akan dibuka luas untuk menggenjot arus kunjungan wisatawan dan meningkatkan devisa daerah. Seluruh sumber daya, pengalaman serta kekuatan jaringan kerja yang dimiliki Gubernur Victor dan Wagub Josef selama ini diyakini efektif dalam mempercepat pembangunan sektor pariwisata. Ya pariwisata harus jadi sebuah industri kunci dan sumber ekonomi utama yang bisa mensejatherakan rakyat Nusa Tenggara Timur.

Propinsi NTT hari-hari  ini menghebohkan dunia pariwisata internasional. Daerah ini adalah satu dari sepuluh destinasi unggulan nasional diluar Bali yang lagi gencar-gencarnya membangun pariwisata. Belakangan NTT dengan pesona utama Labuan Bajo di Manggarai Barat dikabarkan masuk dalam 10 Destinasi Top Dunia yang direkomendasikan wajib dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara.Tak terbantahkan magnet wisata NTT tersebar di hampir semua kabupaten/kota. Di Rote ada alat musik Sasando yang mendunia; di Sumba ada hotel terbaik dunia bahkan pulau Sumba juga dijuluki oleh Majalah Foccus terbitan Jerman sebagai pulau terindah. Apa gerangan?

NTT memiliki kekayaan wisata yang eksotis, komplit, beragam dan masih asli.  Kekhasan seni budaya, keindahan alam dan panorama alam bawah lautnya menjadi daya tarik wisata yang begitu kuat. Anda bisa menemukan pula beberapa spot wisata minat khusus, wisata sejarah dan religi yang  kini kesohor hingga ke mancanegara. Pesona ini mampu menghipnotis para pelancong asing dan domestik untuk terus berdatangan.

Harus diakui daerah ini makin populer seiring dengan tereksposenya dua keajaiban dunia yakni Taman Nasional Komodo dengan binatang langkah Varanus Komodoensis dan  Danau “Kelimutu” yang warnanya bisa berubah dalam satu periode waktu tertentu.  Ada juga atraksi budaya yang mencolok di NTT misalnya Pasola (atraksi lempar lembing berkuda di pulau Sumba), penangkapan Ikan Paus secara tradisional di Lembata dan tarian Caci di Manggarai. Uniknya, masing-masing kabupaten di propinsi ini memiliki kekhasan ritual adat budaya, seni tari dan musik tradisional serta kekayaan corak dan motif tenun ikat dengan pewarna alami yang selalu memikat wisatawan.

Dari sisi kekayaan bahari, NTT memiliki ratusan dive spot terbaik yang sangat digandrungi para penyelam dunia. Pesona alam bawah laut dan terumbu karang  berkualitas internasional bisa dijumpai di kepulauan Alor, Teluk Maumere, Flores Timur, Riung, Labuan Bajo dan Sumba dan sebagian pulau Timor. Di pulau Rote anda bisa menikmati sajian wisata pantai  yang indah untuk olahraga selancar selain di pantai Tarimbang dan Nihiwatu pulau Sumba. Bagi wisatawan yang mengagumi wisata rohani, NTT juga menjadi lokus pagelaran wisata rohani yakni ritual keagamaan Paskah warisan Portugis Samana Santa di Flores Timur, Logu Senhor di Sikka dan ritual tradisional PASKAH Kure di Noemuti kabupaten Timor Tengah Utara. Potensi dan daya tarik wisata lainnya juga bisa anda jumpai di daerah-daerah lain di Timor, Sabu, Adonara dan wilayah kepulauan sekitarnya.

Melihat potensi wisata yang begitu kaya dan berdaya tarik internasional tersebut maka pemerintah propinsi NTT yang baru di bawah kendali Gubernur Victor Laiskodat dan Wakil Gubernur Josep Nae Soi bertekad mengemasnya menjadi aset yang bernilai tinggi mensejatherakan rakyat. Pariwisata NTT tidak boleh hanya dikagumi tetapi barus memberi manfaat eknonomi. Strateginya adalah benahi destinasi dan SDM. Soal strategi promosi akan dialihkan lebih menyasar ke kerjasama promosi internasional bersama negara-negara se rumpun melanesia dan pasific selatan. Fokusnya memang membuka rute penerbangan internasional ke Australia dan Dili sementara negara-negara tetangga lainnya tetap menjadikan Australia sebagai hub untuk selanjutnya bisa terbang langsung dari Australia ke NTT melalui pintu masuk di Kupang, Labuan Bajo dan Tambolaka Sumba

Kerjasama pariwisata ini diyakini tidak hanya memberi manfaat untuk peningkatan di sektor pariwisata semata tetapi juga berdampak luas jalinan  kemitraan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan dan hubungan bilateral antara negara- negara terkait dengan propinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Memang pemerintahan sebelumnya telah meletakan dasar untuk percepatan pembangunan sektor ini. Wajah pariwisata NTT meski terus berkilau. Kebijakan politik untuk pengembangan sektor ini tentu sangat beralasan. Potensi sumber daya ada. Daya tarik wisata kita sangat luar biasa dan lengkap. Kandalanya dana kita memang kurang untuk sektor ini; destinasi kita juga masih terbatas infrasrukturnya. Masih banyak yang harus dibenahi. Namun lebih dari itu, NTT butuh kebijakan politik yang masif dan agresif seorang pemimpin yang bisa mengemas semua keterbatasan yang ada menjadi kekuatan untuk tetap survive, maju dan harus mencuat ke permukaan. Dan itu semau harus berangkat dari kesiapan destinasi, SDM dan lalu urusan promosi.

Sebagai salah satu sektor kunci peningkatan ekonomi, pariwisata NTT kini seakan menemukan masa keemasannya. Kebijakan nasional memihak dan politik anggaran pariwisata di daerah nampaknya meningkat di era pemerintahan gubernur Victor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi. Kabarnya anggaran super jumpo mendekati Rp 50 miliar siap digelontorkan pemerintahan Victory-Joss untuk pengembangan sektor ini. Fokusnya anggarannya jelas yakni pada penataan destinasi wisata. Tentu masih ada event promosi berkelas internasional tetap digelar, produk dan daya tarik wisata NTT terus terekspose. Daerah ini memang perlu “dijual”. Selain event, NTT butuh juga media massa cetak dan elektronik untuk mewartakan tentang pesona NTT dan juga keindahan negeri ini.

Saat ini tercatat ada lima event promosi bertajuk budaya dan wisata olahraga (Sport Tourism) dari propinsi NTT tersebut telah masuk dalam Callender of Event Pariwisata Nasional. Rinciannya, Festival Komodo pada bulan Februari di Labuan Bajo, Festival parade kebangsaan di Ende bulan Mei-Juni, Parade 1001 Kuda Sandlewood dan Festival Tenun Ikat berkelas internasional di pulau Sumba pada bulan Juni, Lomba Balap Sepeda Internasional “Tour de Flores” pada bulan Nopember, Festival Fulan Fehan di Kabupaten Belu  bulan Oktober dan “Tour de Timor” setiap bulan Nopember. Semua event promosi itu dalam jalinan kerjasama yang apik dengan pihak Kementerian Pariwisata di Jakarta untuk mendukung branding bersama ‘Pesona Indonesia”. Pertanyaannya apakah kelima event ini  akan terus dipertahankan selain menata destinasi?

Hal ini wajib untuk dilanjutkan karena apapun alasannya sebuah event bisa masuk callender of events secara nasional bukanlah barang mudah. Butuh proses yang panjang dan perlu strategi komunikasi yang jitu. Masuknya event-event ini berpotensi mendapatkan keuntungan ganda berupa jata promosi intens yang disupport dari Kementerian Pariwisata RI pada semua kegiatan promosi kementerian baik di dalam maupun luar negeri. Yang kedua, daerah ini makin dikenal luas dan bergaining untuk pembiayaan bareng terkait pagelarannya. Ini menarik dan benar-benar menjadi momentum kebangkitan pariwisata NTT sesuai sandi politik “Kita Bangkit Kita Sejathera”.

Pemerintah NTT juga menggelar aneka event pariwisata lainnya seperti Kontes Fotografi Bawah Laut, Bulan Soekarno di Ende, Lomba Surfing di Rote, Festival Menonton Paus dan atraksi penangkapan ikan paus di Lembata, Treking di Fatunausus kabupaten TTS dan treking Gunung Meja, serta aneka kegiatan kepariwisatan lainnya. Kegiatan ini belum termasuk event-event sejenis Sales Mission yang digelar barengan dengan pihak kementerian pariwisata ke beberapa negara. Tujuannya tentu satu yakni mempromosikan untaian potensi daerah ini ke kanca internasional dan menggenjot minat kunjungan wisatawan asing.

Wisatawan asal Austalia memadati pelabuhan Baa Rote ketika turun dari Kapal Cepat Bahari Ekpress. Foto : Fortuna

Babak Baru Pariwisata NTT Dipundak Victory- Joss

Banyak potensi wisata di semua klaster baik di Sumba, Flores dan Timor telah diangkat ke permukaaan meski belum maksimal. Kekurangan dan keterbatasan tentu saja ada terutama soal penataan destinasi yang masih minim karena dukungan anggaran yang terbatas. Kualitas SDM kita juga tentu masih perlu ditingkatkan dan masih jadi pekerjaan rumah bagi kepemimpinan NTT yang baru dipundak Gubernur Victor Laiskodat dan Wakil Gubernur Joseph Nae Soi (Paket Victory Joss).

Dalam berbagai kesemaptan Gubernur Victor dan Wakil Gubernur Josep selalu menekankan aspek penataan dan kesiapan destinasi menjadi kebutuhan utama sebelum promosi. Hal ini tentunya beralasan karena apalah artinya sebuah promosi yang heboh sementara destinasi wisata kita masih apa adanya. Fasilitas dasar belum dibangun, akses ke destinasi masih sulit serta SDM pariwisata kita di destinasi-destinasi masih sangat minim. Dengan fakta yang ada makan tekad pasangan ini  untuk mengelontorkan anggaran besar menata sektor pariwisata mesti diapresiasi.

Penataan ini dalam rangka mendukung kerja besar melahirkan Branding NTT sebagai 1 dari 10 destinasi unggulan baru Pariwisata Indonesia. Memang tidak salah juga bahwa dengan promosi selama ini propinsi NTT mempunyai bergaining yang kuat dimata pemerintah pusat. Dana super jumbo mulai digelontorkan Jakarta untuk menata banyak destinasi di NTT. Labuan Bajo sebagai “laboratorium” pariwisata NTT kini terus dibenahi. Anggaran ratusan miliar bahkan trilunan rupiah dari semua sektor digelontorkan kesana untuk perbaikan infrastruktur, penataan destinasi dan peningkatan kualifikasi SDM pengelola pariwisata kita. Pembenahan ini wajib dan linear dengan Iklim Investasi swasta dibidang pariwisata di Labuan Bajo dan Flores umumnya yang terkoreksi bergeliat tajam.

Hal yang sama dirasakan masyarakat Sumba. Dengan pagelaran event Festival Tenun Ikat dan Parade Seribu Satu Kuda  di Sumba maka mata nasional terbuka; dunia memuji Sumba sebagai pulau terindah. Banyak orang mulai datang dan menikmati keindahan Sumba sesungguhnya. Investasi meningkat. Bandara Tambolaka kini makin ramai bahkan lagi diperjuangkan menjadi bandara internasional. Hotel mewah Nihiwatu yang sebelumnya masih “sangat tertutup”kini terbuka untuk umum dan bahkan menyabet predikat sebagai Hotel Terbaik Dunia versi TripAdvisor. Sumba yang eksotik kini tetap bertengger dikelasnya.

Di pulau Timor, kota Kupang menerima tumpahan kemajuan pembangunan pariwisata.  Bangunan hotel dan restoran tumbuh pesat di kota ini. Di semua sudut kota usaha-usaha jasa pariwisata berkembang. Pusat-pusat hiburan, pusat kuliner dan UKM pariwisata meningkat tajam seiring dengan kemajuan ekonomi dan daya beli warga yang membaik. Bandara El Tari yang lima tahun sebelumnya tak pernah ada pesawat yang nginap kini apronnya terisi full 12 pesawat. Pantai Lasiana yang sebelumnya sepi pengunjung telah kembali rohnya sebagai destinasi wisata pantai utama dikota Kupang.  Ini bukti bahwa kota ini mulai terbuka industri pariwisatanya. Hal yang sama dirasakan sesama saudara di Wini, Timor Tengah Utara dan Motaain kabupaten Belu yang kini menjadi beranda NKRI. Wini dan Motaain telah menjadi destinasi wisata perbatasan selain karena tarik batas negara tetapi juga terpesona oleh kemegahan infrastrukturnya. Para pengunjung dari negara Timor Leste terus berdatangan dari waktu ke waktu ke NTT untuk berwisata belanja juga urusan budaya dan keluarga.

Fakta-fakta ini tentu menjadi kekuatan awal untuk NTT baru bersama pasangan Gubernur NTT yang baru Bapak Victor B.Laiskodat dan Wakil Gubernur Bapak Joseph Nae Soi. Dengan mengedepankan pariwisata sebagai leading sector menjadi angin segar untuk mendorong sektor pariwisata sebagai lokomotif yang bisa menairk gerbing-gerbong lain. Kepemimpinan Pak Victor dan pak Joseph dengan seluruh sumber daya, pengalaman dan kekuatan jaringan kerja yang ada dipusat diyakini semakin mempercepat pembangunan sektor ini. Kita dukung kebijakan pemerintahan NTT baru yang menaruh perhatian serius pada penataan destinasi dan infrastruktur. Dengan demikian semakin memudahkan wisatawan ketika ke NTT. Antara aspek promosi dan kesiapan destinasi memang harus berimbang. Pariwisata harus benar-benar jadi sebuah industri dan sumber ekonomi yang bisa mensejatherakan rakyat.

Tentu satu harapan bersama bahwa kterlibatan semua pihak terutama mitra pariwisata semisal ASITA, HPI, PHRI, Airlines, Mass Media, Appindo dan juga stakeholder lainnya. Kedepan semua elemen ini harus tetap bersama pemimpin NTT yang baru menggelorakan satu semangat yang bermuara pada visi kebangkitan pariwisata NTT sebagai Nusa Tenggara Terindah (*)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *