Sanggar Lurun Blutuk Lero Bekor Maumere Bangkit Lagi

Suasana Kulababong Kadispar Sikka Kensius Didimus dengan para pelaku wisata di Sanggar tersebut, Jumad (8/9). Foto : Arnol Fortuna

Lurun Blutuk Lero Bekor bukanlah nama baru dalam deretan sanggar seni budaya asal kabupeten Sikka, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Sebagai Sanggar tertua yang pernah lahir di tahun 1990-an, sanggar Lurun Blutuk Lero Bekor telah  berkontribusi mendukung kemajuan pariwisata dan budaya daerah setempat. Memang pernah fakum beberapa tahun karena beberapa alasan teknis, namun harus diakui juga selama jeda waktu itu derap nadi dan tren pergerakan kepariwisataan di Flores dan khusus di kabupaten Sikka terkoreksi menurun.

Kini dengan manajemen baru,  Ketua Sanggar Markus Kustandi Lerang sebagai generasi pewaris berkomitmen menggairahkan lagi sanggar itu dengan berbagai kegiatan yang pro-pelestarian seni budaya, industri kreatif tetapi juga produktif secara ekonomi.

Markus merasa lebih terharu ketika usahanya bersama warga setempat membangun kembali sanggar itu mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Sikka. Hal ini ditandai dengan kehadiran Kadis Pariwisata Sikka Kensius Didimus dan jajaran Pemda Sikka sekaligus meresmikan sanggar itu pada Jumad (8/9). Kensius didampingi stakeholders pariwisata Sikka diantaranya Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Kabupaten Sikka Heribertus Ajo,  Ketua ASITA Kabupaten Sikka Konradus Rindu dan Ketua HPI Cabang Sikka, Ignasius Kasar

Ratusan warga Dusun Rana, Desa Nita kecamatan Nita Kabupaten Sikka  nampak hadir dan memeriahkan prosesi peresmian sanggar itu. Mereka mengenakan pakaian adat setempat, sementara  anak-anak berusia dibawa 15 tahun Binaan Sanggar Lurun Blutuk Lero Bekor menjemput tamu undangan dengan tarian Adat Togo.

Kompleks Sanggar Lurun Blutuk Lero Bekor. Foto ; Arnold Fortuna

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, Kensius Didimus pada Acara Kulababong (diskusi bersama) disela-sela meresmikan Sanggar itu mengharapkan Sanggar Lurun Blutuk Lero Bekor harus bangkit, maju dan berkembang dalam mendukung industri pariwisata di kabupaten Sikka.

Hal ini dikarenakan keterlibatan mitra swasta dan pegiat pariwisata sangat menentukan maju mundurnya pembangunan pariwisata di sebuah daerah. “Saya kira pemerintah tidak bisa jalan sendiri. Dukungan mitra dan teman-teman pelaku wisata sangat kami harapkan. Kita harus sejalan berjuang untuk percepatan pembangunan sektor ini. Saya benar-benar bangga dan mengapresiasi kehadiran sanggar ini dan juga kebersamaan kita  di Sikka,” ujar pria yang selalu tampil energik ini.

Kepada penenun sarung dan pengrajin lokal, Kensius berharap  agar mempertahankan mutu, motif, warna  serta harga sarung itu sendiri. ”Sarung adalah peradaban budaya kita masyarakat kabupaten Sikka, mari kita sama-sama pertahankan. Hal ini menunjukan harkat dan martabat kita orang Maumere,’ ajaknya

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Kabupaten Sikka Heribertus Ajo pada kesempatan itu meminta agar pengelola dan penenun pertahankan keaslian dari produk sarung dan jaga kehormonisan antara warga dan pengunjung serta cara pelayananya.

Sementara Ketua ASITA Kabupaten Sikka Konradus Rindu mengharapkan keberadaan Sanggar Lurun Blutuk Lero Bekor saatnya harus bangkit dan terus jaya selamanya. Konradus menceritakan dekade  90an dirinya bersama rekan seprofesi pernah membawa 20an tamu yang datang dari berbagai negara menggunakan kapal laut bersandar di Pelabuhan Sadang Bui Maumere (sekarang Lorens Say,red).

Kala itu situasinya jauh berbeda penuh keheningan tanpa fasilitas yang lengkap, tanpa jalan yang permanen namun pendiri-pendiri sanggar saat itu tetap mempunyai semangat berjuang dengan berbagai cara agar sanggar ini tetap eksis.

Pria yang malang melintang di dunia perjalanan wisata ini mengharapkan agar pelaku sanggar fokus pada apa yang menjadi motivasi besama yaitu menjaga melindungi budaya serta membenahi beberapa fasilitas pendukung lainnya bagi pengunjung seperti tempat parkir, arena pentas  dan penambahan home stay yang saat ini baru satu unit.

Hal senada disampaikan Ignasius Kasar Ketua HPI Cabang Sikka. Dia meminta agar masyarakat dan pelaku sanggar  menjaga kenyamanan, ketentraman,  kejujuran serta kebersihan lingkungan sekitar halaman rumah yang nantinya akan dilalui para tamu, terutama lokasi home stay dan sanggar.

Acara Kulababong sore itu berlangsung santai dan penuh kekeluargaan, disuguhi pangan lokal.

Tenun Ikat olahan ibu-ibu anggota Sanggar tersebut. Foto : Arnold Fortuna

Lestarikan Seni Budaya dan Tenun Ikat

Tekad kuat untuk melestarikan seni budaya daerah dan menghidupkan industri kreatif tenun ikat menjadi alasan mengapa Sanggar Lurun Blutuk Lero Bekor hadir kembali.

Ketua Sanggar, Markus Kustandi Lerang pada kesempatan itu mengatakan sebagai generasi penerus dari pendiri sanggar, dia terpanggil untuk menghidupkan kembali Sanggar Lurun Blutuk Lero Bekor sebagai sanggar pertama di Kabupaten Sikka yang sudah puluhan tahun mati suri itu.

“Ini satu kebanggaan besar dari kami warga Dusun Rana terutama secara pribadi, bahwa kami siap untuk menjaga,memelihara  budaya kabupaten Sikka khususnya tenun ikat sarung dengan keasliannya. Sarung memiliki kekayaan makna dan nilai dari harkat martabat orang Sikka,” ujarnya.

Dia berkomitmen kedepannya akan pelan-pelan membenahi berbagai kekurangan yang ada sesuai usul saran masukan dalam forum Kulababong itu.

Untuk diketahui, Sanggar Lurun Blutuk Lero Bekor merupakan  satu dari puluhan sanggar aktif yang ada di kabupaten Sikka.  Sebagai pemain perdana yang hadir di era tahun 1990-an, sanggar ini mempunyai kekhasan yang layak anda kunjungi. Fokus pengelola adalah pada pelestarian budaya dan tenun ikat juga “menjual” aneka potensi seni budaya lokal masyarakat.

Selain keunikan produksi tenun ikat, sanggar ini juga menyiapkan satu unit rumah penginapan (home stay) dengan konsep alami yang jadi magnet tersendiri. Letaknya yang tak jauh dari Kota Maumere tentu juga menjadi alasan sendiri  bagi pengunjung untuk beranjangsana.

Adapun lokasi sanggar ini langsung terletak diperkampungan warga di Dusun Rana yang nyaman,  diapit oleh bukit serta  tak jauh dari perkebunan warga dengan suasana yang natural. Anda masih bisa menikmati kicauan burung dan dapat menghirup udara yang segar ala alam pedesaan.

Suasana Peresmian Sanggar Lurun Blutuk Lero Bekor di Nita, Jumad (8/9). Foto : Arnold Fortuna

Bagi anda penikmat seni budaya lokal, sanggar ini juga mempersembahkan tarian-tarian tradisional yang dilakoni langsung penari-penari cilik setempat  dengan gerakan lincah serta syarat syair-syair pantun lokal. Tak hanya itu pengunjung juga dapat menyaksikan langsung proses pembuatan tenun ikat khas Mawarane.

Anda berminat??? Silahkan mengunjungi Sanggar Lurun Blutuk Lero Bekor di Dusun Rana, Desa Nita, Kecamatan Nita Kabupaten Sikka. Dari pusat kota Maumere anda bergerak ke arah Selatan kurang lebih 10 kilometer  menggunakan segala jenis kendaraan menuju sanggar tersebut. (Arnol Welin/42na)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *