Lomba Mancing Tradisional Perkuat Potensi Lokal di Demon Pagong Flores Timur

Hasil Macingan Peserta Lomba di perairan Demon Pagong, (11/8). Foto : Istimewa

Banyak cara dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat  di seantero jagat nusantara memperingati dan memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 2018. Di Kecamatan Demon Pagong Kabupaten  Flores Timur misalnya, semarak HUT RI dirancang sangat unik dengan menggelar Kontes Mancing Tradisional (Traditional Fishing Contest). Event ini disponsori oleh Perkumpulan Air Hidup didukung penuh jajaran pemerintah kecamatan, Komunitas Pariwisata Demon Pagong dan  seluruh masyarakat.

Demon Pagong Traditional Fishing Contest adalah satu dari rangkaian event Demon Pagong Art and Culture Festival. Event ini adalah perlombaan mancing dengan teknik dan peralatan tradisional yang ramah lingkungan dan tidak mengganggu ekosistem laut.

Camat Demon Pagong Yohanes Ibi Hurint, S.Sos, M.Si dalam rilisnya kepada Majalah FORTUNA belum lama ini mengatakan selain mempromosikan destinasi wisata laut, kegiatan ini bertujuan mendorong peningkatan ekonomi masyarakat di area destinasi dan melestarikan model pengelolaan sumberdaya laut berbasis kearifan lokal yang ramah lingkungan.

“Kegiatan perdana tahun ini diselenggarakan pada sabtu, (11/8) mengusung tema “Demon Pagong untuk Indonesia (DPuI)”. Kedepan event ini kita rencanakan menjadi agenda tahunan yang diselenggarakan setiap bulan Agustus,” ujar Yohanes.

Camat Demon Pagong Yohanes Hurint dan Unsur Forkompimca pose dengan ikan terberat yang didapatkan peserta lomba. Foto ; Istimewa

Adapun waktu kegiatan tersebut adalah pada tanggal 11 Agusutus  pukul 05.30 Wita mengambil lokasi di pantai Lewomuda, Desa Lewomuda, Kecamatan Demon Pagong, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Para peserta memiliki waktu memancing selama 3 jam, kemudian hasil  pancingan ditimbang untuk menentukan pemenangnya, setelah itu dikelola dan dipadankan dengan makanan lokal seperti ubi rebus, pisang rebus, jagung titi, acar lokal kemudian disantap bersama di lokasi kegiatan.

Untuk event perdana ini jelas Frans, peserta yang mendaftar sebanyak 55 orang, namun yang ikut kontestasi ada 48 orang. Adapun latarbelakang peserta yakni nelayan, petani, guru, jaksa, dan hakim.

Banyak dari mereka yang memanfaatkan event ini sebagai wisata hobi. Total hasil tangkapan seluruh peserta adalah 104,6 kg dengan varietas ikan terdiri dari giant trevally (ikan kuwe), kerapu kertang, kerapu sunuk, kerapu macan, ikan gembung, ikan singa merah, ikan lidah, kakap ratu, surgeonfish, dll.

Malam sebelum kegiatan memancing dilakukan pemutaran film edukasi mengenai pelestarian biota laut dan mengenal hewan-hewan laut endemik. Event ini juga sengaja dirancang sebagai wahana ekspresi masyarakat dalam memperingati HUT RI yang akan dipusat di salah satu Embung di daerah itu.

Penyelenggaraan event tahun ini dilaksanakan oleh Perkumpulan Air Hidup dan Komunitas Pariwisata Demon Pagong dan didukung oleh Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Pemerintah Kecamatan Demon Pagong, 7 Pemerintah Desa se-Kecamatan Demon Pagong, Disparbud Flores Timur, Bank Mandiri, Misool Baseftin, DKP Flores Timur, BPBD Flores Timur, PDAM Flores Timur, WCS, Weri Cafe & Resto, Lopo Kopi, Nasi Goreng Om El dan Lurah Sarotari-Larantuka. Sebagian besar dukungan berupa peralatan pendukung kegiatan seperti perahu karet, tim SAR, speedboat patroli laut, kapal lempara, peralatan,liputan untuk publikasi dan air mineral.

Pegelaran Apel HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke 73 di sebuah Embung daerah setempat. Unik dan sangat ekologis. Foto ; Dino A.

Tujuh Desa, Ragam Potensi

Untuk diketahui, wilayah administratif Kecamatan Demon Pagong terbagi dalam 7 Desa yakni Desa Lewokluok, Wototika,Bama, Blapanawa, Kawalelo, Lewomuda dan Desa Lamikayang. Semua desa yang ada memiliki keunggulan-keunggulan komparatif. Ada potensi sumber daya yang besar, baik budaya dan alamnya. Potensi -potensi ini jika dikelola secara arif dapat memberi benefit, baik secara ekonomi dan sosial.

Desa Lewokluok misalnya sejak 5 tahun terakhir dikenal dan diberi lebel sebagai “Desa Wisata” karena masih secara rutin melaksanakan ritual adat tahunan Koke Bale. Ritual ini biasanya dilaksanakan antara bulan Mei, Juni atau Juli. Situs rumah adat di desa ini hingga kini masih terpelihara dengan baik.

Desa Watotika Ile atau biasa dikenal dengan sebutan Desa Wolo memiliki potensi sumber daya alam seperti mata air dibawah kaki gunung yang bisa dikelola menjadi area destinasi wisata air atau lahan pertanian.

Desa Bama adalah salah satu desa di Kecamatan Demon Pagong, yang sudah mempraktekkan pola pertanian dengan sistem pengairan (sawah) dan sebagian besar masyarakatnya sudah menggantungkan hidup mereka dengan bercocok tanam sayuran. Berlimpahnya sumber air Desa Bama, sesungguhnya dapat dikelola dan dikembangkan semisalnya menjadi area pemandian atau agrowisata.

Desa Blepanawa terletak diwilayah pegunungan dan masih terdapat hutan alam yang kaya akan flora dan fauna khas seperti elang dan gagak flores. Di desa ini anda bisa menikmati wisata treking dan atau wisata minat khusus lainnya yang tentu sangat menggembirakan

Salah satu Desa yang unik juga adalah Desa Kawalelo. Desa ini belakangan dikenal memiliki ladang sorgum dengan varietas terbaik dan memiliki hamparan pasir putih halus seperti tepung.

Sementara Desa Lewomuda dengan potensi ritus budaya dan situs budaya yang terletak digunung serta pantai dan lautnya yang relatif terpelihara sehingga dapat dikembangkan menjadi area wisata hobi seperti memancing atau menyelam,

Sedangkan Desa Lamika memiliki sumber mata air panas yang terletak di bibir pantai yang jika dikelola dengan baik akan memberi nilai tambah perekonomian masyarakat.

Camat Demon Pagong Yohanes Hurint kepada Fortuna mengatakan masih banyak potensi yang dapat dikembang oleh masyarakat Demon Pagong. Pengembangan ini hanya membutuhkan sedikit sentuhan, kemauan yang kuat dan kesadaran untuk menumbuhkan kembali semangat gotong royong untuk mengelola dan mengembangkan potensi yang mereka miliki.

Demon Pagong Tradisonal Fishing Contest yang digelar belum lama ini misalnya adalah salah satu model pengembangan potensi sumber daya laut berbasis komunitas dan budaya yang lebih ramah lingkungan dan diharapkan mampu menjadi pendorong peningkatan ekonomi masyarakat desa.  (tim/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *