Waingapu Kota Fashion Carnival Tenun Ikat Tradisional di Indonesia

Lambang garuda pancasila dalam balutan kain Motif TenunanSumba Timur.
foto : Yudi Rawambaku

Kota Waingapu di Kabupaten Sumba Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur memproklamirkan diri sebagai Kota Fashion Carnaival Tenun Ikat di Indonesia. Tekad ini mulai nampak terlihat dalam Karnaval Tenun Ikat dan Budaya tahun ini. Gebyar tenun ikat Sumba yang diperagakan semua etnis dan kelompok usia yang melintas di jalan-jalan protokol Kota Waingapu itu seakan menguatkan pesan bahwa Sumba Timur adalah kota dengan kekayaan motif tenun ikat paling kesohor di Indonesia.

Event akbar yang digelar Rabu (15/8) kemarin mampu nyedot perhatian ribuan orang. Mereka tumpah ruah dijalan-jalan protokol di Kota Waingapu untuk menyaksikan betapa kayanya tenun ikat Sumba. Diantara para penonton itu hadir tamu undangan special yakni Pimpinan Mataya Art & Heritage, Heru Prasetya selaku penyelenggara Festival Sepayung Indonesia di Candi Borobudur tahun 2018.

Dari gebyar event itu setidaknya terbaca ada kerjasama yang apik antara pemerintah daerah dan masyarakat. Mereka bahu membahu, seakan satu dalam tindakan. Mereka dengan bangga mengenakan kain khas Sumba. Satu tekad mereka yakni mempromosikan potensi tenun ikat Sumba untuk kelayak ramai Nusantara dan dunia.

Suasana Carnaval Tenun Ikat Sumba di Kota Waingapu, (15/8).                            Foto : Yudi Rawambaku

“Ini yang saya maksudkan bahwa Waingapu, Sumba Timur adalah Cikal Bakal Kota Fashion Carnaval Tenun Ikat di Indonesia. Tenun ikat kita sangat kaya, berkarakter dan sangat  apik untuk dipadukan dengan fashion style manapun. Tahun depan kita akan perlombakan ini, kita siapkan hadiahnya dan kita mengundang banyak orang datang ke Sumba untuk menyasikannya,” Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora, M.Si ketika membuka Karnaval Budaya di Waingapu, kemarin.

Bupati Gidion nampak begitu terpesona dengan potensi tenun ikat Sumba. Dia langsung memerintahkan panitia agar acara serupa direncanakan lebih matang untuk digelar lebih akbar tahun depan melibatkan lebih banyak orang baik untuk kelas pelajar mahasiswa maupun masyarakat umum.

Baginya promosi Sumba harus dilakukan secara besar-besaran sehingga banyak orang mengenal Sumba dan mau datang menyaksikan langsung event ini. Saya akan minta bantuan Bank NTT dan mitra-mitra swasta untuk sama-sama sponsori event ini,” ujarnya seraya mengajak semua pihak untuk berkreasi mewujudkan Waingapu Fashion Carnaval sebagai bagian dari promosi pariwisata di Sumba Timur.

Event parade budaya yang digelar pemerintah Kabupaten Sumba Timur itu dalam rangka perayaan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73. Ribuan masyrakat nampak antusias menyaksikan khasanah budaya dan motif tenun ikat daerah itu dalam berbagai sentuhan moderen dan tradisional.

Wakil Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, ST, MT ditemui terpisah mengatakan bahwa berbagai atraksi dan hiburan yang ditampilkan merupakan wujud semangat dan kreativitas masyarakat dalam Bhineka Tunggal Ika. Saya setuju kita jadikan Sumba Timur sebagai Kota Fashion Tenun Ikat Tradisional di Indonesia,’ ujarnya.

Peserta Karnaval dalam balutan Motif Sumba TImur. Foto : Yudi Rawambaku

Adapun kegiatan karnaval budaya menyambut HUT NKRI ke-73 di Kabupaten Sumba Timur tahun ini melibatkan sejumlah instansi pemerintah, sekolah-sekolah, unsur swasta, serta perwakilan komunitas-komunitas etnis yang ada di Sumba Timur.

Pimpinan Mataya Art & Heritage, Heru Prasetya memberi aprsiasi dan bangga akan corak dan motif tenun ikat Sumba Timur. Baginya kostum yang dikenakan para peserta karnaval tahun ini sangat memikat, indah dan mempesona . Itu wujud kekayaan Sumba Timur yang perlu dijaga, dilestarikan dan dikembangkan untuk nantinya bisa memberi nilai ekonomi bagi masyrakat.

Apa yang dilakukan pemerintah dan masyarakat Sumba Timur dalam karnaval itu baginya adalah hal positif yang ditiru daeah lain yang mungkin juga mempunyai kekaayan motif tenun ikat dan design corak yang sama.

Kendati demikian, Heru meminta agar kekayaan motif tenun ikat itu tidak boleh terlalu dimodifikasi berlebihan untuk kepentingan pasar nusantara sehingga tidak menghilangkan cerita akan kekhasan daerah aslinya.

“Sumba Timur kaya sekali, indah, tenun ikatnya eksotis. Saya bangga sekali. Saya sangat salut akan kreatifitas masyarakat Sumba Timur dan tentunya ini merupakan awal yang cemerlang untuk kami,” papar Heru Prasetya yang baru pertama kali datang ke Sumba Itu. (yudi ramabaku/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *