Lembata, Dari Festival 3 Gunung Hingga Inovasi Penciptaan Terumbu Karang

Bupati Lembata Eliazer Yantje Sunur,ST dan Wakil Bupati Dr,Thomas Ola Langoday,M.Si.  Foto Istimewa

Lembata. Itulah nama salah satu Kabupaten kepulauan di ujung Timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.  Pulau ini terpaut tak jauh dari pulau Alor, pulau Adonara serta Flores daratan.  Belum lama memang, Lembata menjadi sebuah kabupaten definitif lepas dari induknya Kabupaten FLores Timur. Meski demikian, dalam satu dekade belakangan, nama daerah ini makin bersinar. promosi tentang potensi dan pesona Lembata gencar di lakukan.

Harus diakui, sejak Yantje Sunur menjabat bupati tahun 2012,  nama Lembata makin populer. Pembangunan Infrastrukturnya maju, Aksesibiltasnya bergeliat cepat dan memadai.

Saat ini dibawah kepemimpinan Bupati Eliazer Yantje Sunur,ST dan Wakil Bupati Dr.Thomas Ola Langoday,M.Si, (periode 2017-2022) kabupaten Lembata terus ditata. Keduanya langsung “tancap gas” membangun daerah itu usai dilantik oleh Gubernur Frans Lebu Raya menjadi pemimpin rakyat Lembata beberapa waktu lalu. Mereka tentu menyadari sebagai  kabupaten kepulauan yang kecil dan dikelilingi lautan, daerah itu tidak boleh terisolasi karena tersumbatnya kran pembangunan. Spirit “Satu Lembata, Satu NTT dan Satu Indonesia” terus digelorkan. Ada keyakinan, pulau Lembata yang adalah bagian dari NKRI itu punya hak yang sama untuk mengakses “kue nasional” APBN dalam kerangka percepatan pembangunan di segala bidang.

Alhasil, Lembata bergeliat kencang. Memasuki 1 dekade belakangan nama Lembata makin kesohor. Publik nasional dan dunia mengenal pulau kecil itu. Langkah nyata yang dilakukan pemerintahan Sunur-Langoday  adalah mendongkrak perekonomian rakyat daerah itu dengan menitikberatkan pada sektor-sektor kunci semisal pertanian, perikanan dan pariwisata.

Dari ketiga sektor itu, pasangan Sunur – Langoday mendorong pariwisata sebagai unggulan. Alasannya karena magnet wisata daerah itu amat komplit dan kian mengipnotis penikmat wisata nasional dan dunia. Alamnya indah, baharinya memikat dan seni budayanya eksotis. Ya, Lembata memang seksi. Pariwisatanya kini benar-benar jadi lokomotif yang akan terus didesain secara tematik untuk menarik gerbong-gerbong ekonomi daerah itu menuju kesejatheraan masyarakat.

Panorama Pelabuhan Lewoleba dengan latar Gunung Ile Ape. Foto : Fidel-Fortuna

Dengan menempatkan klaster (cluster) pariwisata sebagai leading sector lokomotif yang menggerakkan pembangun ekonomi,  duet ini memberi inovasi baru dalam pendekatan pembangunan berbasis potensi lokal untuk memberi akselerasi bagi daya saing daerah. Sunur- Langoday mengoptimalkan pendayagunaan potensi setempat, mewujudkan keunggulan kompetitif di daerah pariwisata yang ditata kembali dan dikembangkan secara sinergis. Seluruh kebijakan pembangunan kebutuhan dasar warga akan sarana jalan, air bersih dan listrik diprioritaskan untuk mendukung kemajuan sektor pariwisata

Nah, beberapa indikator majunya pariwisata Lembata dapat dilihat dari giatnya Bupati Yantje Sunur mempromosikan Lembata ketingkat nasional dan dunia sejak 5 tahun pertama memimpin. Menjadi Tuan Rumah Hari Nusantara, menggelar offroad Rally Wisata Bahari Lembata yang diikuti peserta dari berbagai daerah termasuk dari Timor Leste, membuka rute pelayaran baru Lembata- Wakatobi,PP serta meningkatnya intensitas koneksi Kapal Pelni dan pesawat terbang dari dan ke Lembata dalam beberapa waktu belakangan menunjukan bahwa akses daerah itu makin terbuka lebar. Harus diakui, kemajuan ini tentu erat kaitannya dengan kecerdasan kebijakan pembangunan  yang diambil oleh pemimpin-pemimpinnya.

Peserta Sail Indonesia dari berbagai negara menikmati pesona budaya daerah Lembata. Foto :Doc.Fortuna

Festival 3 Gunung dan  HUT Kemerdekaan RI

Kita tentu masih ingat beberapa waktu lalu, Bupati Yantje  mulai menggenjot daerah itu sebagai daerah kepulauan yang layak diperhitungkan. Banyak event bernuasa bahari dan wisata digelar di Lembata. Pejabat pusat berdatangan; tamu domestik dan mancanegara serta wisatawan kapal asing terus lego jangkar disana.

Tahun ini dalam tema besar “Festival 3 Gunung (F3G)”, Lembata lagi-lagi menunjukan jati dirinya sebagai pulau yang sangat strategis karena mempunyai 3 gunung yang unik dan seksi.

Dalam zonasi segita emas kawasan ALTAKA ( Alor, Lembata, Larantuka). Lembata menjadi sentra pariwisata dan ekonomi baru yang bisa membangkitkan  nadi pembangunan 3 daerah yang lazim dengan sebutan “Lamaholot” itu.

Wakil Bupati Lembata, Dr. Thomas Ola Langoday melalui layanan Whaatsapnya kepada www.fortunaeplore.com mengatakan hari-hari belakangan, Pemda dan masyarakat Lembata sedang giat mempersiapkan peringatan HUT ke 73 Proklamasi Kemerdekaan RI di Lembata. Adapun tema HUT Proklamasi tingkat kabupaten Lembata tahun ini yakni Taan Tou (Kerja Kita – Prestasi Bangsa). Moment ini dirangkai dengan persiapan Festival Tiga Gunung (F3G).

Dikatakan Langoday, hari ini Selasa (14/8) bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke 57 Gerakan Pramuka, pemerintah Kabupaten Lembata  meresmikan masuknya air minum bersih ke tiga desa di Kecamatan Ile Ape yakni  Desa Kolontobo, Riangbao dan Petuntawa.

Keindaha terumbu karang perairan Lembata. Foto ; Pinneng Sulungbudi,dkk

Dan bersamaan dengan gerakan pramuka tahun ini juga, Pemerintah Kabupaten Lembata dan Pemerintah Desa Kolontobo melepas Bioreftek yaitu sebuah Inovasi Penciptaan Terumbu Karang dengan bahan dasar semen dan tempurung kelapa. Sebanyak delapan bioreftek dilepas di perairan Teluk Lewoleba, tepatnya di perairan Desa Kolontobo.

Sebagai bagian dari upaya menyongsong Festival 3 gunung (F3G) katanya, maka mulai tanggal 15 Agustus dilakukan Karnaval Budaya yang melibatkan seluruh masyarakat Kabupaten Lembata. Karnaval ini juga bakal diikuti Paguyuban Etnis dan komunitas lainnya di Lembata sekaligus penerimaan peserta Sail Indonesia yang masuk di perairan Lembata. Dikabarkan, sebanyak 40 kapal phinisi/ yatch milik peserta sail dari puluhan negara di dunia bakal merapat diperairan teluk Lewoleba.

 

Masih terkait Festival 3 Gunung katanya, pada malam tanggal 15 Agustus akan dilakukan Launching Jadwal Event F3G yang acara puncaknya akan dilakukan pada tanggal 22-29 September 2018.

Parade Budaya Lamaholot memeriahkan Hari Nusantara Tingkat Nasional di Lembata, tahun 2017. Foto : Istimewa

“Adapun Persiapan lain menyongsong F3G adalah lomba melukis oleh 1000 anak sekolah TK, SD dan SMP yang dilakukan tanggal 16 Agustus sore hari di pelabuhan Jeti Lewoleba. Ada juga Festival budaya Lamaholot melibatkan kabupaten Alor, Flotim dan  Lembata;  Fashion Show, pemecahan Rekor MURI Tenun oleh 1999 anak sekolah dan  lomba dayung lawan arus watowoko,” ujar Mantan Dekan Ekonomi Unwira Kupang ini.

Event akbar lainnya yakni paralayang, festival payung, dan lomba musik anak muda Lembata.

 

Wabub Langoday juga memastikan bahwa Pekan F3G yang akan dipusatkan di kawasan Bukit Cinta itu akan dimeriahkan pula lomba pembuatan film dokumenter berdurasi pendek dan pameran Produk Unggulan Lembata yang melibatkan semua pelaku usaha di Lembata. (fdl/42na)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *