Warga Perbatasan RI-RDTL di Malaka Tenun Bendera Merah Putih

Ny.Fransiska Kolo Teti, Penenun Desa Kereana, Kecamatan Botin Leobele sedang menenun seledang dirumahnya. Foto : Eujenia Daconcecao- Fortuna

Ada cara unik yang diekspresikan warga Perbatasan Indonesia -Timor Leste dalam menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 2018. Beberapa ibu di Desa Kereana, Kecamatan Botin Leobele Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur mengisi hari kemerdekaan dengan menenun lembaran kain bendera Merah Putih.

Kain tenunan berbentuk selendang itu warnanya menyerupai lambang bendera negara Indonesia yakni merah putih. Tenunan tersebut ternyata untuk dijual ke publik Malaka guna mendapat penghasilan tambahan dan menopang ekonomi rumah tangga. Sebagiannya diperuntukan bagi anak-anak mereka di Sekolah Dasar yang akan mengikuti Lomba Gerak Jalan Tingkat Kabupaten Malaka di Betun.

Fransiska Kolo Teti, salah seorang penenun selendang kepada www.fortunaexplore.com di Kereana mengatakan niatnya membuat tenunan selendang berwarna merah putih itu adalah yang pertama kalinya. Dia memanfaatkan peluang ekonomi itu bertepatan dengan momentum Peringatan HUT Kemerdekaan RI

Bahkan empat lembar tenunan selendang milik Fransiska jauh hari sudah dipesan pihak sekolah SDK Tualaran di desanya yang akan dipakaikan kepada anak-anak disekolah tersebut untuk mengikuti Lomba Gerak Jalan 8 kilometer dari Solo ke Kota Betun. Selendang berukuran kurang lebih  100cm kali 25cm itu dipatok seharga Rp25.000/lembarnya

“Ini baru pertama kali saya tenun selendang berwarna bendera Indonesia. Saya coba-coba saja buat pas 17-an begini. Untuk empat lembar ini sudah diminta oleh pihak sekolah SDK Tualaran untuk anak-anak ikut Lomba Gerak Jalan di Betun. Harganya 25.000/lembar,” ujar Ny.Siska

Pantauan www.fortunaexplore.com, hampir seluruh ibu rumah tangga dari Desa Kereana Kecamatan Botin Loebele bermata pencaharian sebagai penenun. Usaha kain tenun tersebut bahkan menjadi sumber ekonomi untuk kehidupan keluarga dan juga membiayai sekolah anak-anaknya.

Hasil tenunan kali ini juga menjadi promosi bagi usaha tenun ibu-ibu di Desa Kereana untuk diketahui luas agar bisa dikembangkan kedepan. Apalagi tahun ini anak-anak SDK Tualaran yang menggunakan selendang berwarna merah putih dari tenunan ikat tersebut mewakili kecamatan Botin Leobele ke tingkat kabupaten.

Mereka berharap pemerintah Kabupaten Malaka dan juga di propinsi NTT dapat membantu pemasaran usaha tenun mereka. Pemerintah juga diminta mendukung dana secukupnya lewat kelompok-kelompok tenun yang telah ada untuk mengembangkan usaha tenun ikat secara profesional.

“Semoga pemerintah  daerah, propinsi bahkan pusat membuat rumah tenun agar hasil tenunan kami bisa dijual secara baik. Kita juga butuh perhatian pemerintah berupa modal usaha melalui kelompik-kelompk tenun yang sudah ada. Karena sudah lama kami hidup dan sekolahkan anak-anak dari tenun ini,” ujar Siska berharap.

Harga Bendera di Toko Lebih Mahal

Mengapa harus menenun selendang berndera Indonesia berbahan dasar tenun ikat? Alasannya karena secara hitungan ekonomi membeli selembar bendera merah putih berbentuk selendang di toko-toko di Betun harganya jauh lebih mahal. Belum lagi soal ongkos angkutan ke kota.

“Selain itu harganya bisa lebih mahal karena bertepatan dengan Hari Kemerdekaan jadi semua orang cari. Belum lagi harus dihitung dengan ongkos angkutan dari Desa Kereana ke Betun tentu jatuhnya lebih mahal, “ ujar mama Siksa

Pertimbangan lain katanya mereka lebih yakin untuk langsung mengerjakan sendiri karena memang mata pencaharian mereka adalah menenun. (Eujenia Daconcecao/42na)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *