Pangan Organik Maulafa Jadi Destinasi Wisata di Kota Kupang

Gereja GMIT Be’tel Maulafa Kota Kupang. Foto : Wilfrid Fortuna

Kota Kupang adalah sebuah Kota yang lagi berkembang pesat dari banyak aspek. Selain kemajuan secara infrastruktur dan jasa, warga kota ini tentu juga mengharapkan ketersediaan pangan yang cukup dan memenuhi unsur Beragam, Berimbang, Sehat dan Aman (B2SA) untuk dikonsumi. Harus diakui, kebutuhan sumber pangan atau makanan-makanan yang sifatnya organik di kota Kupang kini semakin besar.  Bahkan Produk pangan yang disasar lebih mengarah kepada produk pangan yang diolah secara organik (non kimia).

Menjawabi kerinduan warga tersebut maka Majelis dan Jemaat GMIT Bet’el Maulafa Kota Kupang melakukan sebuah terobosan baru di bidang pertanian dengan membentuk Komunitas Tani Organik atau KTW (Kelompok Tani Wanita). Komunitas ini  bahkan gencar membudidayakan dan memasarkan aneka produk hortikultura organik yang berpusat di Maulafa Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Salah satu aksi nyata yang dilakukan komunitas ini adalah dengan menyelenggarakan kegiatan “ Temu Raya dan Ekspo Pangan Organik” yang berlangsung belum lama ini di Pelataran Gereja GMIT Bet’el Maulafa Kota Kupang. Kegiatan ekspo tersebut menampilkan aneka pangan organik berupa sayur-sayuran dan buah-buah segar yang diproduksi oleh Jemaat dari areal gereja dan kawasan sekitar dengan 100% tidak menggunakan bahan kimia.

Pantauan Fortuna, beberapa stand sederhana dari bambu berjejer rapih dengan pajangan produk-produk pertanian hortikultura organik.  Begitu banyak produk sayuran dan buah-buahan organik yang dipamerkan seperti kembang kol, kangkung selediri, buncis, terung dan borokoli yang terlihat segar. Beberapa stand lainnnya memasarkan aneka buah organik seperti lemon cina, cermele, pisang, sawo, anggur dan masih banyak lagi. Nah, tak jauh dari arena pameran ada kebun contoh yang membudidayakan produk organik sayuran maupun buah-buahan yang terbentang luas di areal Gereja GMIT Bet”el Maulafa. Tempat ini boleh dikatakan sebagai salah satu destinasi agrowisata baru di Kota Kupang.

Ada kurang lebih 7 komunitas yang produknya dipamerkan saat itu yakni KWT (Kelompok Wanita Tani) dari Melati produsen, sayur hayati, kuliner local, tanaman buah unik dan unggas. Kemudian ada KWT dari Flmboyan Belo, KWT Mawar, KWT Berdikari, KWT Pelangi Kasih Manulai dan KWT Sesawi.

Ketua Majelis Jemaat GMIT Bat’el Maulafa, Pendeta Lorry Victoria Lena Foeh kepada Fortuna mengatakan bahwa terbentuknya komunitas ini dengan konsep Ekologi dan Ketahanan Pangan yang artinya menghijaukan. Konsep ini lahir dari pengamatan dirinya akan gejala sosial kemasyarakatan massa kini khususnya pada bidang kesehatan.

Menurut Pendeta Lorry, ada begitu banyak orang yang terkena penyakit masa kini  yang diduga dampak dari pengaruh makanan dan minuman yang sumbernya dari bahan-bahan kimia. Itulah sebabnya dirinya bersama komuntas Jemaat Bat’el Maulafa menghadirkan gagasan baru untuk merubah pola pikir masyarakat sekarang dengan pola tanam dan metode baru berbasis organik atau non kimia

Komunitas Tani Organik ini kata Lorry tidak sebatas Majelis Jemaat GMIT Bet’el Maulafa saja tetapi menyasar masyarakat umum bahkan umat lintas agama. Prinsipnya adalah siapapun yang punya kerinduan bersama, ingin bergabung dan mau mengaktualisasikan diri dalam Komunitas Tani Organik

Selain memulai dari dalam kawasan gereja sendiri, Lorry bermimpi agar kedepan pemerintah Kota Kupang membuka pasar khusus untuk produk-produk organik. Pasar organik ini  bahkan menurutnya bisa menjadi destinasi wisata yang khas bagi siapa saja yang ingin datang dan berbelanja ke Kota Kupang.

”Dalam mimpi saya, ini menjadi destinasi wisata. Orang bisa berolah raga disini, bersepeda, jogging, bisa berbelanja disini sehingga terjadilah perubahan gaya hidu sehat,.” ungkap Lorry optimis

Sebagai Pengurus Komunitas Organic se-Kota Kupang, Lorry memaparkan bahwa saat ini  anggotanya terus meningkat menjadi sekitar 70-an orang. Dari jumlah itu ada kurang lebih 15 orang yang sudah membuka kelompok tersendiri.  Adapun areal perkebunan organic milik KWT adalah seluas kurang lebiih 13.000m2 yang telah dikelola. Hal ini tentu menjadi kontribusi nyata warga Kota Kupang untuk mendukung pemerintah di bidang ketahanan pangan.

Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore bersama Pdt. Lorry Lenna Foeh, para Majelis Gereja dan tamu undangan mengunjungi Kebun Pangan Organik, Senin (6/8)
Foto :Wilfrid Fortuna

Walikota Jefri Riwu Kore Apresiasi

Kegiatan yang bertema “Jadikan Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia Sebagai Tonggak Perubahan Pola Konsumsi Pangan Organik” ini disambut baik oleh Pemerintah Kota Kupang. Walikota Kupang Jefri Riwu Kore saat meresmikan lokasi itu tidak mampu menutupi rasa bangganya.

Selain memberi apresiasi, dia berharap komunitas yang sudah terbentuk bisa berkelanjutan dan terus ditingkatkan secara kualitas dan kuantitasnya.

“Pemerintah juga punya tanggung jawab untuk bersama-sama memasarkan apa yang menjadi produk komunitas itu. Saya Bangga dan kalau memungkinkan kita harus punya kemampuan untuk mengekspor dan bekerjasama dengan perusahan seperti di hotel-hotel, restoran dan rumah sakit yang ada di Kota Kupang untuk memasok pangan organik dari lokasi ini,” ujar Jefri yang sempat meninjau langsung areal perkebunan organik usai Membuka Expo Pangan Organik itu.

Atas nama pemerintah, Jefri menyampaikan terima kasih atas gagasan dan terobosan baru Majelis dan  Jemaat Gereja Be’tel yang telah menginisiasi kegiatan Ekspo Pangan Organic itu.

Kegiatan itu baginya merupakan bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah khususnya dalam bidang pemenuhan kecukupan pangan masyarakat yang aman dan berkualitas. (Wilfrid/42na)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *