Flores Pulau Naga (Nusa NiPa) Arti Sebuah Nama

Oleh : Laurensius Lepo, S.Tr. Par (Staf Dispar Kabupaten Sikka)

Nama pulau Flores berasal dari sebutan para pedagang Portugis – flora da cabo – karena melihat banyak jenis bunga dan bentuk batu karang yang menyerupai bunga di wilayah Flores bagian Timur. Kemudian dalam publikasi luar dinamakan pulau ini Flores, sedangkan masyarakat setempat menyebutnya dengan banyak nama sesuai bahasa komunitas adatnya. Nama yang paling akrab dan sekaligus digunakan dalam bahasa ritual adalah Nusa Nipa yang berarti pulau Ular Naga. Variasi nama Nusa Nipa ini ditemukan dalam beberapa komunitas lokal yakni Nutje Lale di bagian Manggarai, Nusa Nipa Ria di Lio – Ende, Nuhan Ular Naga Sawaria di Krowe-Iwan, Nuha Ula di Lamaholot – Flores Timur.

Penyebutan nama Nusa Nipa – Pulau Naga berakar pada spiritualitas dan khasanah adat  budaya komunitas lokal, dengan berbagai ritual dan seremoni adat. Nusa Nipa– simbol Naga Sawaria dihidupi untuk mengungkapkan relasinya dengan Pencipta Bumi – Langit, alam gaib yang menjaga alam lingkungan dan para leluhur yang menjadi pendahulu – asal suku dan adat. Ternyata nama pulau Naga – Nusa Nipa ini pun diabadikan dalam motif tradisi ikat tenun dibeberapa komunitas lokal, seperti di Lio dan Krowe-Iwan. Motif dibuat berdasarkan cerita mimpi, syair adat dan penampakan gaib dari Naga – Sawaria yang mencap gambarannya di dinding rumah, tiang rumah atau bambu. Lebih jelasnya, secara fisik di wilayah pulau Flores ditemukan berbagai jenis ular besar sejenis phyton dan sanca, aneka jenis dan ukuran buaya, teristimewa Naga Purba di Komodo – wilayah paling barat pulau Flores Tentang nama pulau Naga – Nusa Nipa ini telah dibuat penelitian dan penjelasan ilmiahnya oleh Almarhum Pastor Piet Petu – Sareng Orin Bao, SVD dalam bukunya Nusa Nipa, terbitan Nusa Indah – Ende. Banyak penjelasan secara adat budaya serta lukisan berbagai bentuk naga ditampilkan sesuai dengan khasanah tradisi lisan masyarakat adat budaya lokal; yang masih menjalankan ritual dan seremoni sehubungan dengan wujud ular dan Naga Sawaria – sesuai tradisi kepercayaan leluhur serta cara pandang serta konsep spiritual yang dimiliki mereka. Naga Sawaria – Nusa Nipa menjadi sebuah khasanah mitis magis yang memenuhi atmosfir alam Flores, simbol spiritual dan seremoni adat di keliling kompleks megalitik; entah di tengah kampung adat maupun pada lokasi ritual di alam bebas sesuai tradisi. Berbagai ritual mitis magis tersebut agak pudar sekitar 50 tahun terakhir; setelah makin derasnya pengaruh modernisasi serta kuatnya agama Katholik di Flores.

Menurut informasi, untuk mengembalikan nama Nusa Nipa ini, para mahasiswa STFTK Ledalero, yang saat itu dipimpin oleh Dr. Daniel Dhakidae, pernah membuat petisi dan dikirimkan kepada berbagai instansi pemerintah; dengan tuntutan mengembalikan nama asli yakni menggantikan nama Flores dengan Nusa Nipa untuk pulau ini. Alasannya, karena spirit dan karakter kepribadian masyarakat lokal Flores adalah Naga Sawaria, BUKAN bunga, “kami adalah Naga Sawaria – Nusa Nipa, BUKAN bunga, flora da cabo – Flores.

Menurut hemat saya, pernyataan sikap dengan petisi tersebut sangat beralasan, karena fakta yang dihidupi komunitas adat masyarakat lokal di pulau ini memang Naga – Nusa Nipa, bukan bunga. Juga dilihat dari karakter serta perawakan masyarakat lokal lebih gesit, satria dan heroik, dinamis dan interaktif seperti “Naga – Sawaria”, bukan lemah lembut dan diam seperti bunga. Dari komunitas masyarakat adat asalku di Krowe-Iwan, ada ungkapan nama adat untuk wilayah ini, yang juga digunakan dalam ritual setempat menyatakan tentang Naga Sawaria; yakni ami ata Krowe nuhan ular – ata Iwan tana loran; Nuhan Ular tana loran – nuhan Naga Sawaria.(kami orang Krowe- Iwan adalah penghuni yang mendiami wilayah tengah dari pulau Ular Naga Sawaria). Di Nusa Nipa juga telah ditemukan manusia purba yang tinggal di gua-gua, dan diberinama ‘Flores Hobits’ oleh para peneliti yang melakukan penelitian arkeologis di Liang Bua – Flores Barat.

Di pulau Naga Sawaria – Nusa Nipa tercatat dalam sejarahnya adalah sebuah wilayah perjumpaan aneka suku bangsa dari berbagai penjuru, dan mampu membangun relasi harmonis, karena saling melengkapi dan membutuhkan. Pengalaman itu dikuatkan oleh berbagai khasanan kearifan adat budaya lokal serta relasi antar agama melalui hubungan dagang dan perkawinan, dengan tetap menjunjung nilai adat budaya dari komunitas lokal. Bahkan dalam hal agama pun ada sebagian segi terjadi semacam inkulturasi dengan khasanah kearifan dan spiritualitas adat budaya masyarakat lokal; khususnya agama Katholik.

Pulau Stegedon – Pulau Gading.

Selain disebut Nusa Nipa, pulau ini juga bisa disebut sebagai “Pulau Setegedon – Pulau Gajah– Pulau Gading”. Tentang hal ini pasti ada banyak pendapat yang bisa didiskusikan, tetapi penelusuran saya menemukan ada alasan yang cukup kuat. Dari Museum Blikon Blewut dalam kompleks STFTK Ledalero ada bukti arkeologis tentang fosil stegedon – moyangnya gajah – berupa tulang, gigi dan gading gajah purba; hasil penggalian di Soa – Mengeruda – Ngadha. Kemudian hingga saat ini tersimpan sangat banyak gading gajah berbagai ukuran, ada yang beratnya di atas 75 kg dan panjangnya lebih dari 1,5 M, di wilayah Kabupaten Sikka, Flores Timur dan Lembata. Selain menjadi barang pusaka dan kebanggaan suku komunitas adat, gading juga digunakan untuk mahar – belis dalam seremoni perkawinan adat budaya setempat. Ada gading yang diproses menjadi perhiasan berbentuk gelang untuk dipakai perempuan dan laki-laki dalam busana adat, juga untuk alat barter dengan tanah atau emas antar keluarga di masyarakat lokal. Tentang hubungan dengan gajah dan gadingnya, ada mitologi yang dihidupi di wilayah Krowe-Iwan dan Lamaholot, dengan penegasan bahwa komunitas adat lokal tersebut berasal dari Gajah, seperti suku yang memiliki ritual sebagai keturunan gajah di wilayah pulau Lembata. Ungkapannya di Krowe-Iwan adalah ‘inan gajak – aman di gajak, kotin bala – talin lodan”, sedangkan di Lamaholot, “inak go rimo – amak go gajah, kotek bala – tale lodan” (artinya: ibu – bapak-ku gajah, gasing dari gading dan talinya rantai emas). Bentuk pulau ini pun mirip dengan sebatang gading yang di letakan di atas tanah, pangkalnya di Barat agak besar, semakin mengecil ke ujungnya di Timur, dengan bentuk melengkung dan semakin runcing.

Pulau 1000 Salib

Penduduk di Nusa Nipa – Pulau Naga pada umumnya beragama Katholik yang dibawa oleh para misionaris Portugis dan Belanda abad ke-16, dalam perjalanan bersama para pedagang yang mencari rempah; khususnya cengkeh dan cendana di Maluku. Posisi pulau Flores dan Timor menjadi tempat persinggahan dari Maluku menuju pulau Jawa dan Sulawesi, untuk kembali ke Semenanjung Malaka – yang sekarang dikenal sebagai Singapura. Pengaruh agama Katholik semakin kuat sejak awal 1900, karena para misionaris dengan seluruh kegiatan keagamaan menetap di Flores. Kegiatan pengembangan pendidikan dan kesehatan menjadi fokus pastoral gereja, untuk mendukung aktivitas keagamaan. Selain itu banyak kegiatan ketrampilan dikembangkan; seperti pertukangan – bengkel untuk kaum pria dan kursus menjahit – memasak untuk perempuan.

Banyak biara Pastor dan Suster dibangun di sejumlah tempat, juga dibuka sekolah pendidikan calon imam dan suster. Untuk menunjang kehidupan biara dan asrama pendidikan, dibuat juga peternakan dan perkebunan; baik tanaman umur pendek maupun tanaman perdagangan seperti kopi dan kelapa. Di Ende juga didirikan sebuah percetakan – Nusa Indah – untuk berbagai kepentingan gereja dan pendidikan, yang masih berjalan hingga sekarang. Beberapa Seminari menengah didirikan dan dua seminari tinggi dibangun di Maumere, dengan sekolah tinggi filsafat dan teologi Katholik– STFTK Ledalero. Di tempat ini pun ada sebuah Museum Arkeologi – Museum Blikon Blewut – yang menyimpan banyak koleksi istimewa untuk kepentingan ilmiah, karena hasil temuan yang dilakukan para arkeolog dan budayawan misionaris SVD (Societas Verbi Divini – Divine Word Society– Serikat Sabda Allah).

Sejalan dengan semua kegiatan di atas, di setiap wilayah gerejawi di Flores, dibangun pula tempat ibadah seperti Kathedral, gereja, kapela dan tempat ziarah dan gua untuk devosi kepada Bunda Maria. Tradisi devosi dengan pengaruh Portugis masih kuat di wilayah Keuskupan Larantuka – kota Renya Larantuka – Wure, dan di Keuskupan Maumere; di Nita, Lela dan Sikka. Sekarang ini di Nusa Nipa – Flores sudah ada 4 Keuskupan dengan lebih dari 200 Paroki dan Stasi untuk melayani sekitar 2,5 juta umat Katholik. Dengan kenyataan tersebut di atas, maka Nusa Nipa pantas diberi gelar Pulau 1000 Salib. Dari pulau 1000 Salib ini telah dikirim ribuan misionaris – pastor, bruder dan suster – ke sekitar 150 Negara di lima benua untuk kerasulan agama Katholik.

Berbeda dengan relasi antara Adat budaya Bali dan agama Hindu di pulau Bali yang saling memperkuat, kehadiran agama Katholik di Nusa Nipa justru lebih dominan terhadap Adat  budaya lokal, karena menilai adat budaya menganut animisme dan kafir – gentiu (baca: jentiu), sehingga harus ditinggalkan; bahkan khasanah adat budaya ada yang dihancurkan seperti megalitik serta ritualnya. Ironisnya, setelah dihancurkan, kemudian ada upaya inkulturasi, pada unsur ornamen –kulit Adat budaya lokal. Misalnya dalam penggunaan bahasa daerah, kesenian dan busana lokal.

Pulau Pancasila

Pada tahun 1934 – 1938, sang Proklamator bangsa Indonesia dibuang oleh penguasa VOC Belanda ke Nusa Nipa – Pulau 1000 Salib – kota Ende, karena aktivitas politiknya untuk mendirikan Negara Republik Indonesia. Selama berada di kota Ende, banyak hal yang dilakukan, khususnya berdiskusi dengan para Pastor dan membaca di perpustakaan biara serta berdoa dan melakukan renungan pribadi. Hasilnya antara lain dalam bentuk sejumalh teks drama, yang kemudian dipentaskan dengan kelompok toneel – sandiwara di Ende, lukisan dan yang paling populer adalah rumusan tentang ‘ilham’ Pancasila. Berbagai pengalaman pribadi, pengolahan bathin serta bacaan yang dilakukan sang Proklamator, menghasilkan mutiara ideologis untuk bangsa serta dunia. Banyak pengagum sang Proklamator yang meyakini bahwa rumusan teks Pancasila dari Bung Karno – Ir. Soekarno adalah sebuah ‘ilham’ dari Sang Pencipta Semesta untuk umat manusia di dunia; bukan hanya untuk bangsa Indonesia.

Kebiasaan duduk merenung di bawah pohon sukun di lapangan sepak bola Ipi, sambil menghadap ke laut selatan kota Ende, telah melahirkan sejarah yakni perumusan ideologi Pancasila bagi Negara Indonesia. Di rumah pengasinganya di kota Ende, sang Proklamator telah menerima ilham bahwa Negara Indonesia akan merdeka pada hari Jumad kliwon, tanggal 17 Agustus 1945, dan tulisan ilham itu tersimpan disana sampai sekarang sebagai data sejarah. Hal itu ditulis juga oleh Sang Proklamator dalam beberapa bukunya serta dinyatakan dalam beberapa pertemuan khusus dengan para sahabat politik dan pidato-pidatonya. Fakta dan data sejarah itulah yang membuat saya memberi nama kepada pulau Flores sebagai Pulau Pancasila, dan menjadi sebuah obyek wisata sejarah dan ilmiah.

Di pulau Flores, Nusa Nipa, Pulau Naga Sawaria, Pulau Stegedon – Gading Gajah, Pulau Pancasila; tersimpan khasanah adat budaya komunitas lokal, yang memiliki aneka bahasa, bahasa ritual adat, kesenian daerah, khasanah mitis magis dan megalitik serta aneka ritual dan seremoni adat yang berhubungan dengan siklus kehidupan mereka. Secara ilmiah bisa menjadi laboratorium akademis untuk penelitian para ilmuwan di bidang budaya, arkeologi, antropoloigi, linguistik, flora dan fauna purba, kelautan dan lain-lain. Sedangkan untuk bidang pariwisata, ada potensi yang bisa dikembangkan sebagai obyek istimewa dan wonderfull, karena hanya ada di Nusa Nipa – Flores *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *