MERANGSANG PEMBANGUNAN PARIWISATA KOTA KUPANG DAN SEKITARNYA

Oleh : Abed Frans

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies) Propinsi NTT

Kota Kupang sebagai ibukota Propinsi Nusa Tenggara Timur memang tidak memiliki objek wisata alam unggulan yang terkenal seperti yang terdapat pada Kabupaten-kabupaten lainnya yang ada di Nusa Tenggara Timur ini. Katakanlah Nihiwatu, Pulau Komodo, Pulau Padar, Kelimutu, Wae rebo dan masih banyak lagi destinasi wisata yang begitu tersohor bahkan sampai ke luar negeri. Jika saat ini berbagai destinasi-destinasi di luar kota Kupang itu bisa dikatakan sedang berbulan madu dengan banyaknya kunjungan wisatawan dari berbagai daerah termasuk wisatawan manca negara, maka kota Kupang belum sampai ke situ.  Memang harus diakui pula bahwa sebagai salah satu “pintu masuk”(Border Gate) dengan Timor Leste, tercatat cukup banyak orang yang masuk ke kota Kupang juga. Bahkan data Statistik yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menginformasikan bahwa dalam lima bulan pertama pada tahun 2018 ini tercatat sudah 25.504 “wisatawan” yang masuk ke NTT melalui pintu perbatasan di Mota Ain. Tetapi apakah semua itu wisatawan ataukah orang-orang itu masuk ke Kupang dengan tujuan lain selain berwisata? Mungkin karena keperluan keluarga, mungkin karena untuk berbelanja, atau mungkin karena urusan bisnis lainnya. Memang masih perlu dicermati lebih lanjut.

Lantas apakah kota Kupang yang tercinta ini tidak mempunyai keinginan untuk mendapat banyak kunjungan wisatawan yang benar-benar ingin berlibur dan menikmati destinasi-destinasi yang ada di kota Kupang dan sekitarnya (Daratan Timor)?  Tentu ingin juga.  Sebagai ibukota Propinsi NTT yang cukup pesat perkembangannya, kota Kupang layak menjadi lebih dari sekedar sebagai kota transit menuju destinasi lainnya diluar Kupang seperti Rote, Alor, Lembata, Bajawa dan kota-kota lainnya.Sebenarnya jika saja kota-kota itu memiliki penerbangan langsung ke Denpasar, Surabaya atau Jakarta, maka bisa jadi semakin sedikitlah orang-orang yang akan hilir mudik di kota ini.

Kota kupang dan sekitarnya (Pulau Timor) sebenarnya bukan tidak memiliki destinasi alam yang indah juga. Kita bisa sebut sederetan tempat wisata di Kupang dan sekitarnya seperti Lasiana, Tablolong, Air Cina, Fatu Braun, Pantai Teres, Kolbano, Oetune, Kampung Boti, Mutis Fatumnasi, Fatu Ulan, Danau Tuamese, dan terus sampai ke Fulan Fehan di Kabupaten Belu. Kita juga memiliki tenaga-tenaga Pramuwisata handal dan sudah teruji yang menguasai beberapa bahasa asing seperti Inggris, Jerman dan Belanda (meskipun dibutuhkan lebih banyak dari itu). Juga perusahan Travel Agent yang begitu banyak di Kota Kupang juga meramaikan elemen-elemen sebagai modal untuk menarik wisatawan, disamping Destinasi dan tenaga Pramuwisata tadi. Berarti sebenarnya semua unsur untk menjadi daerah Pariwisata sudah cukup terpenuhi.

Bagaimana caranya?

Sebagai bentuk masukan kepada Pemerintah Daerah Kota Kupang dan juga Pemerintah Daerah sekitarnya seperti Kabupaten Kupang, Kabupaten TTS, Kabupaten TTU dan Kabupaten Belu yang berada dalam daratan pulau Timor ini serta bisa juga untuk Kabupaten Rote, Sabu, dan Alor agar sekiranya lebih sering duduk bersama untuk membahas hal ini. Karena semua daerah memiliki ketergantungan. Misalnya suatu  destinasi di TTS tentunya memerlukan wisatawan yang datang berkunjung. Disini Travel Agent/ Tour Operator lah yang mempunyai tugas untuk mencari wisatawan nya dan selanjutnya akan dipandu oleh Pramuwisata. Selanjutnya wisatawan yang hendak ke TTS tersebut harus masuk melalui Kupang atau Belu. Begitupun pihak Airlines dan bandara yang berada di Kupang juga mengharapkan banyaknya penumpang-penumpang termasuk para wisatawan tersebut. Disitulah hubungan ketergantungan terjadi.

Oleh sebab itu tentunya pertama sekali yang sangat dibutuhkan adalah koordinasi antar Pemerintah Daerah yang benar-benar untuk kelancaran arus kunjungan wisatawan tersebut, karena dampak Multiplier effect (dampak kepada elemen yang lain) seperti Sewa kendaraan, Restauran,  Hotel, Cindera mata tentu akan sangat terasa.

Selanjutnya adalah perbaikan akses maupun destinasi serta manajemen dari destinasi itu sendiri. Memang klise jika berbicara mengenai aksesibilitas ataupun pembangunan serta penataan destinasi. Akan lebih mudah berbicara mengenai manajemen destinasi dibanding berbicara mengenai pembangunan atau pengadaan aksesibilitas menuju destinasi dan Penataan destinasi itu. Biasanya yang sering kita dengar adalah Minimnya Anggaran serta Sumber daya sebagai alasan dari lambatnya pembangunan aksesibilats dan penataan destinasi tersebut. Tetapi apapun alasannya hal itu adalah wajib hukumnya untuk diupayakan. Karena produktifitas akan semakin meningkat manakala aksesibilatsnya semakin baik pula. Juga, untuk meningkatkan PAD suatu daerah tentunya perlu diusahakan dari sektor-sektor yang memiliki peluang terbesar untuk meningkatkan PAD itu sendiri dengan waktu yang paling cepat pula. Sektor Pariwisata sudah ditetapkan oleh bapak Presiden Jokowi sebagai sektor prioritas karena merupakan sektor yang paling murah dalam pembiayaan dan paling besar dalam memasukan pendapatan. Oleh sebab itu apapun alasannya maka infrastruktur di bidang Pariwisata wajib dikerjakan dahulu. Kita percaya dan mendoakan agar para Pemimpin Pemerintah Daerah baik itu Walikota maupun para Bupati dengan segala kemampuan dan kecerdikannya pasti mampu melakukan hal tersebut.

Berikutnya adalah mengenai pelaku Pariwisata di daerah itu sendiri. Seperti kita ketahui bahwa pelaku Pariwisata seperti Tour Operator masih sangat jarang kita temui di kota Kupang dan sekitarnya. Tour Operator adalah bagian dari bidang usaha jasa Perjalanan, khususnya perjalanan wisata. Biasanya dalam melayani wisatawan, Tour Operator tersebut menyiapkan segala sesuatu yang menyangkut keperluan perjalanan para wisatawan tersebut mulai dari tiket pesawat, hotel, restaurant, kendaraan, pemandu wisata, sampai pada asuransi perjalanan. Tour Operator ini biasanya menawarkan produk mereka berupa aneka paket-paket perjalanan wisata pada event-event seperti Travel Mart atau Travel Fair maupun di media baik di dalam maupun di luar negeri. Mungkin karena kota Kupang dan sekitarnya belum menjadi daerah wisata seperti di Bali, Labuan bajo dan daerah lainnya oleh sebab itu banyak perusahan Travel Agent konvensional yang masih ogah untuk menambah “menu” pelayanannya dengan pelayanan dalam bidang Operator Peralanan wisata. Jika kita sadari bahwa bisnis Travel Agent khusus nya yang berkonsentrasi pada bidang ticketing saja sekarang ini sedang dalam tekanan Travel-travel Online seperti Traveloka, Tiket.com, Via, dll maka sebenarnya para pengusaha Travel Agent tersebut sudah harus memikirkan langkah-langkah antisipatif nya. Bagaimana menyikapi bisnis ticketing yang semakin menurun dan mencari jalan keluar untuk tetap survive. Jika tidak maka bisa diramalkan bahwa perusahaan nya hanya akan bisa bertahan total tanpa bisa berkembang, kecuali memiliki dana yang besar dan orang-orang yang hebat didalamnya untuk bisa bersaing dengan Traveloka dll itu. Nah untuk itu mungkin Tour Operator adalah salah satu solusinya karena bidang kerjanya masih dalam pelayanan perjalanan, dan jika dibandingkan maka tentunya bidang Tour Operator banyak memiliki kelebihan dibanding Travel Agent, seperti pemasukan yang jauh lebih besar, minimnya potensi hutang dari pelanggan, dan yang pasti sangat menyenangkan karena bisa bekerja sekaligus jalan-jalan juga. Dalam hal ini sebenarnya hanya memerlukan niat yang kuat dan kesabaran saja dalam memulai sebagai Tour Operator. Masalah kemampuan dengan sendirinya akan berkembang seiring dengan berjalannya usaha itu (Learning by doing).

Yang terakhir adalah bagaimana antara Pemerintah Daerah disamping bersinergi dengan sesama instansi terkait, juga bersinergi dengan para pelaku usaha Pariwisatanya, termasuk media sebagai corong dalam melaksanakan promosi misalnya. Karena kita sadari bahwa dalam bidang Pariwisata ini adalah mustahil jika kita berjalan sendiri. Tidak mungkin Pemerintah sebagai Regulator dan Fasilitator dapat bertindak sekaligus sebagai Eksekutor di lapangan juga. Pemerintah memerlukan para Pelaku Pariwisata untuk mengundang dan melayani para wisatawan di lapangan (Destinasi) yang sudah disiapkan infrastrukturnya oleh Pemerintah untuk kepentingan peningkatan PAD. Para pelaku Pariwisata tentunya memiliki jaringan kerja yang luas di seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia yang bisa saja membantu untuk memasarkan dan menjual destinasi tersebut, dan memang itulah yang terjadi selama ini. Begitu pula sebaliknya yaitu para pelaku usaha pariwisata tersebut sangat mengharapkan agar Pemerintah dapat benar-benar menyediakan infrastruktur yang terbaik bagi wisatawan. Kita tentunya tidak berharap wisatawan hanya berkunjung sekali saja dengan alasan karena sarana-sarana di destinasi tersebut dianggap tidak layak.  Antara Pemerintah Daerah dan Para pelaku Pariwisata juga dapat berjalan bersama dalam mempromosikan destinasi tersebut jika sudah benar-benar siap. Juga Pemerintah dan para pelaku Pariwisata tentunya membutuhkan Media sebagai salah satu wadah untuk melakukan Promosi, karena jaman sekarang ini arus informasi dan komunikasi sangat cepat sampai ke tujuan di jaman digital ini. Inilah yang disebut dengan Sinergitas Pentahelix yaitu bentuk kerja sama antar semua instansi yang terlibat beserta semua stakeholder untuk memajukan Pariwisata. Semoga Pariwisata Kota Kupang dan sekitarnya dapat lebih cepat berkembang dan maju dengan pesat. Salam Pesona Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *