Marius, Pariwisata NTT dan Kepemimpinan Baru

Catatan: Fidelis Nogor (Pemred Majalah Pariwisata FORTUNA)

Propinsi Nusa Tenggara  Timur (NTT) Indonesia kini menghebohkan dunia pariwisata internasional. Daerah ini adalah satu dari sepuluh destinasi unggulan nasional diluar Bali yang lagi gencar-gencarnya membangun pariwisata. Belakangan NTT dengan pesona utama Labuan Bajo di Manggarai Barat dikabarkan masuk dalam 10 Destinasi Top Dunia yang direkomendasikan wajib dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara.Tak terbantahkan magnet wisata NTT tersebar di hampir semua kabupaten/kota. Di Rote ada alat musik Sasando yang mendunia; di Sumba ada hotel terbaik dunia bahkan pulau Sumba juga dijuluki oleh Majalah Foccus terbitan Jerman sebagai pulau terindah. Apa gerangan?

Ya Nusa Tenggara Timur memiliki kekayaan wisata yang eksotis, komplit, beragam dan masih asli.  Kekhasan seni budaya, keindahan alam dan panorama alam bawah lautnya menjadi daya tarik wisata yang begitu kuat. Anda bisa menemukan pula beberapa spot wisata minat khusus, wisata sejarah dan religi yang  kini kesohor hingga ke mancanegara. Pesona ini mampu menghipnotis para pelancong asing dan domestik untuk terus berdatangan.

Harus diakui daerah ini makin populer seiring dengan tereksposenya dua keajaiban dunia yakni Taman Nasional Komodo dengan binatang langkah Varanus Komodoensis dan  Danau “Kelimutu” yang warnanya bisa berubah dalam satu periode waktu tertentu.  Ada juga atraksi budaya yang mencolok di NTT misalnya Pasola (atraksi lempar lembing berkuda di pulau Sumba), penangkapan Ikan Paus secara tradisional di Lembata dan tarian Caci di Manggarai. Uniknya, masing-masing kabupaten di propinsi ini memiliki kekhasan ritual adat budaya, seni tari dan musik tradisional serta kekayaan corak dan motif tenun ikat dengan pewarna alami yang selalu memikat wisatawan.

Dari sisi kekayaan bahari, NTT memiliki ratusan dive spot terbaik yang sangat digandrungi para penyelam dunia. Pesona alam bawah laut dan terumbu karang  berkualitas internasional bisa dijumpai di kepulauan Alor, Teluk Maumere, Flores Timur, Riung, Labuan Bajo dan Sumba dan sebagian pulau Timor. Di pulau Rote anda bisa menikmati sajian wisata pantai  yang indah untuk olahraga selancar selain di pantai Tarimbang dan Nihiwatu pulau Sumba. Bagi wisatawan yang mengagumi wisata rohani, NTT juga menjadi lokus pagelaran wisata rohani yakni ritual keagamaan Paskah warisan Portugis Samana Santa di Flores Timur, Logu Senhor di Sikka dan ritual tradisional PASKAH Kure di Noemuti kabupaten Timor Tengah Utara. Potensi dan daya tarik wisata lainnya juga bisa anda jumpai di daerah-daerah lain di Timor, Sabu, Adonara dan wilayah kepulauan sekitarnya.

Melihat potensi wisata yang begitu kaya dan berdaya tarik internasional tersebut maka pemerintah propinsi NTT kian kreatif mengemasnya menjadi aset yang bernilai tinggi. Strateginya adalah melalui promosi media selain pagelaran event-event akbar. Mantan Gubernur NTT Frans Lebu Raya dan Wakil Gubernur Beny Litelnoni bahkan telah meletakan dasar yang kuat untuk percepatan pembangunan sektor ini. Selama 5 tahun belakangan warna pariwisata NTT nampak. Kebijakan politik Frans Lebu Raya untuk pengembangan sektor ini tentu sangat beralasan. Potensi sumber daya ada. Daya tarik wisata kita sangat luar biasa dan lengkap. Yang kurang mungkin hanya dukungan kebijakan politik “penguasa” plus komitmen pejabat teknis (Kepala Dinas Pariwisata,red) yang punya kemauan dan gagasan brilian memajukan pariwisata daerah. Dana kita memang kurang, destinasi kita juga masih terbatas infrasrukturnya. Masih banyak yang harus dibenahi. Namun lebih dari itu, NTT butuh seorang kreator yang bisa mengemas semua keterbatasan yang ada menjadi kekuatan untuk tetap survive, maju dan harus mencuat ke permukaan. Selain menggelar aneka event, di era digital saat ini konsep tourism marketing harus juga berbasis IT. Belum lagi kemampuan manejerial dan negosiasi termasuk kecakapan berkomunikasi dalam “bahasanya para wisatawan”. Itulah syaratnya kenapa gubernur Frans Lebu Raya saat itu memilih Dr.Marius Ardu Jelamu,M.Si untuk menjadi Kepala Dinas pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Propinsi NTT.

Untuk memajukan pariwisata sebagai program unggulan di periode kedua kepemimpinannya, Frans Lebu Raya dan Benny Litelnoni tentu butuh figur yang bisa bekerja cepat dan mampu membreakdown semua program kebijakannya dengan cakap dan tuntas. Adalah benar bahwa sosok Marius ternyata efektif dan mampu mengangkat wajah pariwisata NTT dimata nasional dan internasional. Marius adalah pribadi yang brilian dan piawai. Kemampuan komunikasi verbal dan non verbalnya keren. Bahasa Inggrisnya juga sangat bagus. Ramah,pergaulannya luas, luwes dan apa adanya. Harus diakui dia adalah Kepala Dinas mumpuni dengan segudang ide dan prestasi.

Selepas mendapat tanggungjawab sebagai Kadis Pariwisata NTT saat itu, Marius langsung tancap gas. Dia berjuang memaksimalkan keterbatasan sumber daya yang ada. Dalam hitungan  yang tak lama Pembangunan pariwisata bergeliat kencang, makin gaduh dan seksi. Posisi NTT yang kini masuk 10 Top destinasi unggulan wisata nasional dan dunia tidak terlepas dari perannya. Kalau ditanya, Marius tentu hanya ingin agar pariwisata NTT yang kaya ini dikelola secara profesional, diberi perhatian dan sentuhan serius sehingga berdaya saing global. Tugasnya selama 3 tahun ini telah menghantar pariwisata NTT makin  bersinar. Meski demikian, Marius memang acapkali dicemooh, dianggap sok tau, sok promosi dan berlebihan karena sering tampil di media lokal, nasional bahkan channel-channel TV internasional. Berbagai tanggapan muncul.

Dimata Menteri Pariwisata RI Arif Yahya, sosok Marius punya telenta sempurna. “Pak Marius itu teman, konseptor, pelaku, negosiator tetapi juga seorang marketer ulung,” saya senang bisa bekerjasama membangun NTT. Perhatian kami untuk NTT saat ini sangat tinggi. Mari bersinergi,”ungkap Arif Yahya dalam sebuah pertemuan terbatas di Kantor Kementerian Pariwisata di Jakarta belum lama ini.

Sebagai salah satu sektor kunci peningkatan ekonomi, pariwisata NTT seakan menemukan masa keemasannya. Banyak event promosi berkelas internasional digelar. Melalui event bergengsi, produk dan daya tarik wisata NTT terekspose. Daerah ini mendapat manfaat dan porsi promosi media yang sangat masif. Ya, Marius mampu mencuri perhatian media-media besar nasional dan dunia mewartakan tentang pesona NTT dan juga keindahan negeri ini.

Masih segar dalam ingatan kita dikala pagelaran event akbar semisal Tour de Flores yang melibatkan ratusan peserta dari puluhan negara dan diliput puluhan media asing. Ada festival tenun Ikat Sumba dan Parade Kuda Sumba yang menjadi satu-satunya di dunia saat ini; juga  festival perbatasan antar negara di Wini-Timor Tengah Utara dan Motaain di kabupaten Belu yang sarat kampanye perdamaian dan nuansa pertukaran budaya antar bangsa. Pemerintah propinsi juga menggelar festival Fulan Fehan di Belu untuk menjual pesona wisata alam dan juga industri kreatif lainnya.  Sementara di Flores ada Festival Komodo di Labuan Bajo dan Festival Parade Budaya Kebangsaan di kota Ende yang sangat akbar itu. Semua event promosi itu dalam jalinan kerjasama yang apik dengan pihak Kementerian Pariwisata di Jakarta untuk mendukung branding bersama ‘Pesona Indonesia”

Lima event promosi bertajuk budaya dan wisata olahraga (Sport Tourism) dari propinsi NTT tersebut telah masuk dalam Callender of Event Pariwisata Nasional. Rinciannya, Festival Komodo pada bulan Februari di Labuan Bajo, Festival parade kebangsaan di Ende bulan Mei-Juni, Parade 1001 Kuda Sandlewood dan Festival Tenun Ikat berkelas internasional di pulau Sumba pada bulan Juni, Lomba Balap Sepeda Internasional “Tour de Flores” pada bulan Nopember, Festival Fulan Fehan di Kabupaten Belu  bulan Oktober dan “Tour de Timor” setiap bulan Nopember.

Pertanyaanya, apa manfaatnya masuk Callender of Event nasional? Jawabannya adalah dengan masuknya kelima event ini secara nasional maka berpotensi mendapatkan keuntungan ganda berupa jata promosi intens yang disupport dari Kementerian Pariwisata RI pada semua kegiatan promosi kementerian baik di dalam maupun luar negeri. Yang kedua, daerah ini makin dikenal luas dan bergaining untuk pembiayaan bareng terkait pagelarannya. Ini menarik dan benar-benar menjadi momentum kebangkitan pariwisata NTT.

Pemerintah NTT juga menggelar aneka event pariwisata lainnya seperti Kontes Fotografi Bawah Laut, Bulan Soekarno di Ende, Lomba Surfing di Rote, festival menonton Paus dan atraksi penangkapan ikan paus di Lembata, Treking di Fatunausus kabupaten TTS dan treking Gunung Meja, serta aneka kegiatan kepariwisatan lainnya. Kegiatan ini belum termasuk event-event sejenis Sales Mission yang digelar barengan dengan pihak kementerian pariwisata ke beberapa negara. Tujuannya tentu satu yakni mempromosikan untaian potensi daerah ini ke kanca internasional dan menggenjot minat kunjungan wisatawan asing.  Lalu, adakah yang membantah kalau parwisata NTT saat ini tidur?

Babak Baru Pariwisata NTT Dipundak Victory- Joss

Harus diakui dimasa  Kadispar Marius Jelamu hampir semua potensi wisata di semua klaster baik di Sumba, Flores dan Timor diangkat ke permukaaan. Kekurangan dan keterbatasan tentu saja ada sebagai manusia. Bahwa kekurangan juga soal penataan destinasi kita yang masih minim karena dukungan anggaran yang terbatas. Kualitas SDM kita juga tentu masih perlu ditingkatkan dan masih jadi pekerjaan rumah bagi kepemimpinan NTT yang baru dipundak Gubernur Victor Laiskodat dan Wakil Gubernur Joseph Nae Soi (Paket Victory Joss) yang sebentar lagi dilantik.

Namun yang pasti dengan adanya promosi yang masif melalui berbagai pola, nama NTT mencuat. Branding NTT sebagai Pariwisata Baru Indonesia (The New Toursim Territory) makin menyata. NTT sudah satu langkah lebih maju. Saat ini propinsi NTT mempunyai bergaining yang kuat dimata pemerintah pusat. Dana super jumbo mulai digelontorkan Jakarta untuk menata banyak destinasi di NTT. Labuan Bajo sebagai “laboratorium” pariwisata NTT kini terus dibenahi. Anggaran ratusan miliar bahkan trilunan rupiah dari semua sektor digelontorkan kesana untuk perbaikan infrastruktur, penataan destinasi dan peningkatan kualifikasi SDM pengelola pariwisata kita. Pembenahan ini seakan linear dengan Iklim Investasi swasta dibidang pariwisata di Labuan Bajo dan Flores umumnya yang terkoreksi bergeliat tajam.

Hal yang sama dirasakan masyarakat Sumba. Dengan pagelaran event Festival Tenun Ikat dan Parade Seribu Satu Kuda  di Sumba maka mata nasional terbuka; dunia memuji Sumba sebagai pulau terindah. Banyak orang mulai datang dan menikmati keindahan Sumba sesungguhnya. Investasi meningkat. Bandara Tambolaka kini makin ramai bahkan lagi diperjuangkan menjadi bandara internasional. Hotel mewah Nihiwatu yang sebelumnya masih “sangat tertutup”kini terbuka untuk umum dan bahkan menyabet predikat sebagai Hotel Terbaik Dunia versi TripAdvisor. Sumba yang eksotik kini tetap bertengger dikelasnya.

Di pulau Timor, kota Kupang menerima tumpahan kemajuan pembangunan pariwisata.  Bangunan hotel dan restoran tumbuh pesat di kota ini. Di semua sudut kota usaha-usaha jasa pariwisata berkembang. Pusat-pusat hiburan, pusat kuliner dan UKM pariwisata meningkat tajam seiring dengan kemajuan ekonomi dan daya beli warga yang membaik. Bandara El Tari yang lima tahun sebelumnya tak pernah ada pesawat yang nginap kini apronnya terisi full 12 pesawat. Pantai Lasiana yang sebelumnya sepi pengunjung telah kembali rohnya sebagai destinasi wisata pantai utama dikota Kupang.  Ini bukti bahwa kota ini maju. Hal yang sama dirasakan sesama saudara di Wini, Timor Tengah Utara dan Motaain kabupaten Belu yang kini menjadi beranda NKRI. Wini dan Motaain telah menjadi destinasi wisata perbatasan selain karena tarik batas negara tetapi juga terpesona oleh kemegahan infrastrukturnya. Para pengunjung dari negara Timor Leste terus berdatangan dari waktu ke waktu ke NTT untuk berwisata belanja juga urusan budaya dan keluarga.

Fakta-fakta kemajuan ini tentu menjadi kekuatan awal untuk NTT baru bersama pasangan Gubernur NTT yang baru Bapak Victor B.Laiskodat dan Wakil Gubernur Bapak Joseph Nae Soi. Dengan mengedepankan pariwisata sebagai leading sector menjadi angin segar untuk mendorong sektor pariwisata sebagai lokomotif yang bisa menairk gerbing-gerbong lain. Kepemimpinan Pak Victor dan pak Joseph dengan seluruh sumber daya dan kekuatan jaringan kerja yang ada dipusat diyakini semakin mempercepat pembangunan sektor ini. Pariwisata harus benar-benar jadi sebuah industri dan sumber ekonomi yang bisa mensejatherakan rakyat.

Tentu satu harapan kita adalah kemajuan yang sudah ada mesti diapresiasi sebagai sebuah kerja bersama melibatkan semua pihak terutama mitra pariwisata semisal ASITA, HPI, PHRI, Airlines, Mass Media, Appindo dan juga stakeholder lainnya. Kedepan semua elemen ini juga tentu harus tetap bersama pemimpin NTT yang baru menggelorakan satu semangat yang bermuara pada kampanye Branding Besar NTT sebagai The New Tourism Territotry. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *