Dispar Sikka Gagas Gerakan Seniman Mengajar

Para Peserta GSM disela-sela Workshop.
foto : isitimewa

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang  selalu berpijak pada budayanya. Sadar atau tidak bahwa pembangunan suatu bangsa yang mengabaikan budayanya sendiri akan melemahkan sendi-sendi kehidupan bangsa itu sendiri. Kerena itulah kita bertekad membangun masa depan yang kuat dengan meletakan seni dan budaya menjadi identitas utama. Demikian di katakan  Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka Propinsi Nusa Tenggara Timur, Drs. Kensius Didimus ketika membuka kegiatan Gerakan Seni Mengajar (GSM) di Maumere, Jumad (20/7).

Kensius mengatakan seni merupakan salah satu unsur penting dalam sistem kebudayaan yang harus dipelihara dan dikembangkan sebagai bentuk ekspresi keindahan dan pengalaman rasa serta ide yang mencerdaskan kehidupan batin manusia. Kesenian dan kebudayaan  menjadi identitas dan performa utama sekaligus menjadi cermin atau model peradaban suatu bangsa. Melihat pentingnya, dia meminta penyelenggaraan kegiatan pembinaan kesenian menjadi jadwal rutin tahunan dengan maksud agar seni yang merupakan salah satu unsur penting harus secara kontinyu dilakukan pembinaan,  merevitalisasi untuk melawan kepunahan.

“Kemungkinan akan punahnya seni dan budaya kita bisa terjadi . Melakukan pembinaan dengan model mengajak para seniman untuk turut berpartisipasi dalam pengembangan kesenian merupakan solusi terbaik,” tegas Kensius yang pernah menakodai Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sikka ini.

Gerakan Seni Mengajar (GSM) adalah sebuah upaya positif yang patut diberi apresiasi. Selain masyarakat diajak untuk berbaur dan berinteraksi dengan masyarakat setempat agar dapat membangun jejaring atau ekosistem seni di wilayah mereka berada. Dengan memberikan pelatihan berupa praktek seni atau workshop singkat tersebut diharapakan seni dan budaya yang ada tidak kemudian dibiarkan mati suri.

Kegiatan Gerakan Seni Mengajar dilaksanakan di 3 (tiga) kelurahan yaitu Kelurahan Madawat, kelurahan Wairotang dan Kelurahan Kota Uneng yang berlangsung selama 6 hari ( 20-26 Juli 2018). Kegiatan pembinaan ini melibatkan siswa sekolah dasar ( seni lukis), tingkat SLTP ( seni mendongeng) dan tingkat SLTA dan pemuda/i  (seni musik tradisional)

Tentu kegiatan pembinaan kesenian melalui gerakan seni mengajar ini menjadi sebuah upaya sadar untuk memelihara, menghidupkan, membina, memperkaya dan memanfaatkan segenap perwujudan dan keseluruhan hasil pikiran, kemauan dan perasaan manusia yang dituangkan melalui ide, gagasan dan konsep dalam karya seni.

Ketua Panitia yang sekaligus Kepala Seksi Kesenian Dinas Pariwista dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, Indah Parera menegaskan bahwa kegiatan pembinaan kesenian melalui gerakan seni mengajar dalam kluster bertujuan untuk mendorong seniman berbagi ilmu dan pengalamannya kepada masyarakat terutama generasi muda yang memiliki bakat dan minat di bidang seni baik seni lukis, seni mendongeng dan seni musik tradisional.

“Kegiatan itu diharapakan mampu menjalin kerjasama dengan seniman sehingga dapat meningkatkan kualitas ekspresi seni maupun eksistensi identitas budaya daerah,” tukas Indah.

GSM kali ini mengusung tema “Ayo Tingkatkan Ekspresi Seni untuk Keluhuran Budaya Bangsa”. Tema ini tentu menjadi ruang bagi seniman pemula untuk mengembangkan ide dan mampu mengeksploitasi potensi kreativitas karya seni dan budaya. Selain itu menggali potensi daerah, menciptakan nilai, makna, karakter dan identitas menjadi semangat utama dalam mendorong dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengapresiasi seni dalam kehidupan.

Sekretaris Dinas Pariwisata Sikka, Petrus Poling dan Ketua Panitia disesi akhir penutupan kegiatan.
foto ; istimewa

Untuk diketahui, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur menempatkan pariwisata sebagai salah satu program unggulan terus membangun terobosan dan berbenah diri untuk menata kepariwisataanya. Salah satu langkah strategis yakni menyelenggarakan program pembinanan kesenian yang bertujuan menjaga keseluruhan sistem sebagai perwujudan hasil pikiran, kemauan serta peradapan dalam rangka perkembangan kepribadian manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan penciptanya. (Lorenslepo/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *