BEGINILAH HARAPAN PELAKU PARIWISATA NTT SONGSONG ANNUAL MEETING IMF – WGB di BALI

Oleh :Abed Frans

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia

(Association of the Indonesia Tours & Travel Agencies) NTT

International Monetery Fund (IMF) – World Bank Group (WBG) yang beranggotakan 189 negara di dunia, rutin mengadakan pertemuan tahunan yang diselenggarakan secara bergantian oleh setiap anggota nya sebagai tuan rumah. Pertemuan itu untuk mendiskusikan perkembangan ekonomi dan keuangan global serta isu-isu terkini seperti misalnya : Outlook Ekonomi Global, Stabilitas Keuangan Global, Kemiskinan –Pembangunan – Lapangan kerja, Perubahan iklim. Serta isu-isu global lainnya. Melalui proses yang cukup panjang sejak Indonesia mengajukan Minat dan Proposal Bidding sejak September 2014, ahirnya Indonesia mendapat restu dari sebagian besar anggota dan ditetapkan menjadi tuan rumah AM 2018 pada bulan Oktober mendatang

Untuk diketahui saja bahwa untuk bisa menjadi tuan rumah dari event tersebut dengan melihat jumlah anggota yang sebanyak 189 negara. Alur dari penyelenggaraan sidang IMF ini adalah tahun pertama dan kedua diselenggarakan di Washington DC dan baru pada tahun ketiga diselenggarakan di salah satu negara anggota. Maka bisa kita bayangkan setelah menjadi tuan rumah kali ini, Indonesia baru bisa menjadi tuan rumah lagi pada lima ratusan tahun kemudian.

Melihat dari banyaknya negara anggota dan kesempatan untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan sidang tersebut yang sangat lama baru bisa terjadi lagi, maka bisa kita simpulkan betapa pentingnya acara ini bagi Indonesia.

Data yang kami himpun pada saat mengikuti pertemuan Diseminasi IMF-WBG Annual Meetings 2018 kepada Regional Opinion Maker, di Bali pada 12-13 Juli lalu mengenai seberapa banyakkah peserta yang akan menghadiri acara pertemuan yang akan diselenggarakan di Bali bulan Oktober nanti tersebut yaitu Delegasi resmi sebanyak 3000-4000 orang, Investor sebanyak 3500-5000 orang, Observer sebanyak 1000 orang, Institusi lainnya sebanyak 1000 orang, CSO sebanyak 500 orang dan lainnya sebanya 1000 orang. Maka bisa kita prediksikan bahwa ada sebanyak 12.500 – 15.000 orang akan menghadiri pertemuan tersebut. Angka yang sangat besar tentunya untuk suatu kegiatan pertemuan resmi.

Lantas apa manfaatnya bagi Indonesia menjadi tuan rumah, dan lebih khususnya bagi Pariwisata di Nusa Tenggara Timur dengan Persidangan ini? Bagi Indonesia secara umum bisa kita katakan dengan satu kalimat yaitu “Dunia datang ke Indonesia” (World is Coming to Indonesia). Manfaat Jangka Pendek dengan menjadi tuan rumah pada acara Pertemuan IMF-WBG 2018 ini yaitu terlaksananya percepatan penyelesaian sarana-sarana penunjang kegiatan seperti Bandara, Destinasi Wisata dan lain-lain.

Event ini juga sangat strategis untuk mendongkrak potensi penerimaan Devisa dari kehadiran dan aktifitas tambahan dari seluruh peserta, baik itu sebelum – selama – dan setelah kegiatan Persidangan IMF-WBG 2018 tersebut yang diperkirakan akan mencapai angka 725 Miliyard rupiah selama kegiatan IMF-WBG 2018 berlangsung. Penerimaan Devisa tersebut berasal dari belanja para peserta antara lain Pertemuan (Privat Section), Transportasi dan Akomodasi, Makanan dan Minuman, Belanja dan Hiburan  serta Wisata.

Sedangkan manfaat Jangka Panjangnya adalah bisa jadi berupa Pertukaran ilmu mengenai pembelajaran Penyelenggaraan event-event Internasional, Investasi dan Perdagangan dengan lebih dikenalnya produk local dan terciptanya peluang investasi serta transaksi Perdagangan. Manfaat  lainnya juga yakni Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia khususnya Bali dan Beyond Bali selain meningkatkan posisi tawar dan kemampuan kepemimpinan Indonesia dalam penyelenggaraan event-event Internasional dan pembahasan isu-isu Global.

Nah bagi Pariwisata Nusa Tenggara Timur, kita boleh berbangga karena Labuan Bajo termasuk dalam salah satu dari tujuh Destinasi (Bali, Lombok, Toraja, Danau Toba, Yogyakarta, dan Banyuangi) yang akan dijadikan tempat tujuan wisata bagi para Delegasi maupun peserta lainnya yang dipersiapkan oleh Pemerintah Indonesia. Meskipun kita harapkan dalam pelaksanaannya nanti kunjungan delegasi dan peserta lainnya ke Labuan bajo tersebut bisa dilanjutkan sampai pada destinasi-destinasi lainnya yang berada di sekitar Labuan bajo.

Dengan gambaran jumlah delegasi dan Peserta yang begitu banyak dan proyeksi belanja mereka yang begitu besar sebenarnya kita sangat perlu untuk lebih mensosialisasikan event tersebut kepada Pemerintah Daerah dan segenap masyarakat, khususnya yang memiliki usaha berkaitan dengan Pariwisata. Tujuannya tentu saja agar agar masyarakat atau pelaku Pariwisata setempat dapat lebih siap lagi, baik itu kesiapan produk-produk wisata yang akan di tawarkan maupun kesiapan secara pelayanan kepada para delegasi dan peserta yang akan berwisata tersebut. Bisa saja dengan menyiapkan acara-acara seperti tarian atau festival atau atraksi lainnya yang membuat suasana lebih meriah saat para tamu tersebut sedang tidak berlayar ke pulau-pulau. Intinya adalah sosialisasi untuk merangsang kreatifitas masyarakat agar semakin aktif dalam menunjukan kearifan lokal Destinasi tersebut.

Akan tetapi disamping kemungkinan-kemungkinan peluang tersebut, ada pula masalah yang sebenarnya cukup merisaukan bagi para pelaku wisata lokal di luar kesiapan Pemerintah setempat dalam membangun destinasi tentunya. Kita ketahui bersama bahwa di Labuan bajo sendiri masih sangat terbatas baik jumlah kapal Phinisi maupun kamar hotel dengan kelas Premium. Memang beberapa bantuan kapal yang layak sedang dan akan didatangkan dari Bali dan sekitarnya. Harus diakui bahwa sebagian besar kapal-kapal yang beroperasi di Labuan bajo masih dalam ketegori menengah. Begitupun dengan beberapa hotel berkelas yang sementara dikebut pembangunannya demi mengejar acara wisata delegasi Pertemuan IMF-WBG 2018 ini. Jika kita menargetkan 10% saja dari jumlah delegasi yang 15.000 (bahkan bisa lebih) peserta itu akan berwisata ke Labuan bajo dan sekitarnya, maka tentunya kita bisa jadi akan kekurangan Kapal (yang berkelas premium) dan juga kamar hotel (Premium/ Suite class) bagi para tamu yang notabene adalah para petinggi-petinggi negara peserta pertemuan tersebut.

Para pelaku Pariwisata (Tour Operator) lokal diminta untuk menyediakan paket-paket tour Premium Class yang tentunya juga harus dengan pelayanan yang berkelas Premium. Hal ini menjadi kendala manakala fasilitas berkelas Premium di Labuan bajo adalah masih terbatas

Dari keadaan ini tentunya para pelaku Pariwisata di Nusa Tenggara Timur sangat mengharapkan agar ke depannya baik itu Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah bisa lebih serius dalam memperhatikan Destinasi-destinasi Wisata yang ada dan bukan hanya di Labuan bajo saja. Infrastruktur yang ada agar benar-benar diperhatikan, begitu pula dengan manajement di setiap destinasi demi kenyamanan dan keamanan para wisatawan. Hendaknya semangat promosi Pariwisata yang hebat juga perlu diimbangi dengan semangat membangun Destinasi dan SDM yang hebat juga, karena promosi Pariwisata tanpa disertai dengan penataan Destinasi dan SDM yang hebat adalah sia-sia.

Sedangkan untuk Pertemuan IMF-WBG 2018 itu sendiri, para Pelaku Pariwisata Nusa Tenggara Timur mengharapkan agar dapat terjadi kesepakatan-kesepakatan yang memihak pada Pariwisata Indonesia khususnya Pariwisata di Nusa Tenggara Timur. Para Pelaku Pariwisata Nusa Tenggara Timur juga tentunya sangat mengharapkan adanya investor-inverstor, baik itu dari dalam negeri maupun dari luar yang berinvestasi di Nusa Tenggara Timur dengan mengutamakan peningkatan pertumbuhan ekonomi di Nusa Tenggara Timur. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *