Berlin Craft Jogjakarta Sulap Limbah Kayu Jadi Rupiah

Guevara Sallo –www.fortunaexplore.com- Jogjakarta

Deretan warung-warung kecil berjejer rapi membujur dari sisi timur ke barat seakan terus memberi inspirasi bagi pengusaha-pengusaha muda dalam bidang kerajinan tangan dan souvenir. Berlokasi di daerah selatan kota Jogjakarta dusun Kasongan Jalan DR. RM.Saptohoedojo Tirtonirmolo Kasihan Bantul, disitulah kumpulan produk kerajian Handicraft yang menyulap dari limbah akar dan batang kayu menjadi pemberi rupiah yang sangat tinggi.

Senyum santun dan penuh energik seorang laki laki paru baya menyambut Majalah Fortuna dalam suasana kekeluargaan ketika bertandang pada salah satu dari sekian banyak warung kerajinan tangan berbahan dasar kayu itu. Bernad Purba dialah putra asal Medan Sumatra Utara yang keseharian terus menekuni bisnis kerajinan tangan itu. “ Bongkahan serta limbah  kayu dari akar dan batang mungkin sangat disepelekan orang lain tapi tidak bagi saya yang bisa menyulap jadi ratusan juta. “cetus pria yang masih kental dengan logat Medan itu.

Bernad Purba
foto by; Tanto Guevera Sallo

Sambil mengajak Majalah Fortuna duduk, Purba sapaan akrabnya membagi cerita sekaligus sebagai motivator kepada rekan-rekan muda di Indonesia termasuk dari Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk berpikir bisnis jenis usaha kerajian tangan ini. Berawal dari menjadi pengangguran di kota Jogjakarta, sejak mengundurkan diri dari salah satu perusahan tambang minyak di kota Sumatera maka ia terus berpikir bahwa bagaimana caranya agar bisa mendapatkan uang dengan cara kreatifitas. Sembari merapikan jualan, ia menceritakan bahwa suatu ketika sempat melintas di daerah Kasongan dan melihat deretan pajangan akar-akar kayu dan beberapa batang kayu yang saat itu menjadi sangat awam buat dia. “Saya melintas di daerah sini dan terus melihat potongan kayu serta akar yang unik – unik yang mungkin saja di kampung sudah di buang. “ungkapnya.

Potongan akar kayu yang dalam anggapaan orang tidak berguna namun bisa di sulap menjadi barang dengan nilai tinggi terus mengispirasi pria yang pintar berbahasa Inggris itu untuk terus berbisnis. Bermodalkan tekad yang tinggi akhirnya ia bisa membuka usaha kerajinan tangan yang di beri nama “Berlin Craft”. Potongan dan akar yang sebagian besar dari kayu jati itu di olah menjadi berbagai macam souvenir dan hiasan dengan segala macam bentuk yang sangat memikat pecinta barang-barang unik.

Ia menjelaskan bahwa usaha kerajian tangan itu sangat cocok di daerah -daerah wisata seperti kota Jogjakarta, yang dalam keseharian terus dibanjiri oleh wisatawan baik local maupun asing. Berkat keuletan pria tiga anak ini bersama beberapa karyawanya terus mengolah di bengkel kayunya agar dari potongn kayu dan akar itu menjadi model dan kreasi yang menarik simpatik konsumen.

“Kayu bekas ini akhirnya terus diburuh oleh wisatawan lokal dan sebagian besarnya dari manca negara. Omset yang saya dapat dari berbisnis mengelola limbah kayu ini sekitar 200 juta pertahun¸”ungkapnya. Sebagian besar produknya dikirim ke luar negeri misalkan Malaysia, Singapore,Australia,Amerika, Spanyol, Prancis dan beberapa negara di benua Eropa.

Potongan kayu yang hanya dianggap orang sebagai kayu bakar ini bisa merubah perekonomian pada diri masing-masing, jika dari pribadi ingin merubah.”ajaknya.

Tingginya permintaaan kerajian limbah kayu itu, membuat kewalahan dalam memenuhi permintaan dari manca negara sehingga saat ini, bahan baku terus didatangkan dari daerah Ngawi Jawa Timur guna memenuhi kebutuhan pasaran. Karena Jogjakarta sebagai kota pariwisata dan pendidikan, sangat cocok untuk membuka usaha yang bersifat seni ini. Majalah Fortuna terus diajak untuk mengetahui tentang bagaimana mendapatkan ratusan juta dari limbah kayu yang tidak dianggapoleh orang lain namun sangat berarti dalam dunia kerajianan tangan.

 Pengembang Ekonomi Pariwisata NTT

Menurut pria kelahiran Medan 1965 ini, bahwa NTT sangat cocok untuk orang muda menggelorakan bisnis kerajianan tangan, karena melihat saat ini NTT menjadi pusat perhatian dunia dalam bidang pariwisata, baik wisata bahari maupun wisata alam. Pemuda NTT harus bisa mengisi peluang – peluang emas itu dengan terus berkreasi agar tidak menjadi penonton di negeri sendiri,”tegasnya. Kesediaan bahan baku yang melimpah di NTT sangat cocok untuk berbisnis kerajinan tangan jenis ini, karena kunjungan wisatawan saat ini sangat tinggi setelah Bali dan beberapa daeraah wisata lainya.

Pria tiga anak ini menceritakan selama enam belas tahun usaha yang dirintis itu telah memberikan banyak manfaat dan juga banyak memiliki kenalan baik dalam negeri maupun luar negeri. NTT sangat mudah untuk memasarkan kerajinan tangan itu, karena belum ada kompetitor lainnya yang bergelut dalam usaha yang sama ini. Sehingga untuk memulai usaha ini butuh keberanian dan tekad yang tinggi agar menjadi pemicu dalam mengembangkan dan mengelola limbahkayu yang saat ini tidak dipakai oleh masyarakat NTT.

Melalui Majalah Fortuna ia berpesan bahwa dalam kesibukan berbisnis jualaan hasil kerajianan tangan itu, ia siap untuk didatangkan ke NTT untuk memberikan dan membagi ilmu pengetahuanya sebagai pengelohah limbah kayu yang bernilai tinggi pada generasi muda yang ingin memulai usaha, tapi bingung dengan pasaranya. “Saya siap membimbing teman-teman muda jika ada kemauan dan serius menekuni usaha ini. “tuturnya.

Ia juga berpesan jika pemerintah NTT serius menanggapi bentuk promosi pariwisata itu, maka saatnya pemerintah mengirim pemuda-pemuda yang punya keterampilan khusus untuk terus belajar di Jogjakarta misalnya kursus dan sebagainya, agar kembali dari Jogjakarta pemuda NTT bisa membuka peluang usaha mengelolah limbah kayu di daerah NTT, yang merupakan daerah destinasi pariwisata yang saat ini sedang ramai diperbicangkan dunia.(Tanto Sallo Guevara/42na- Jogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *