Mahir Komputer dan Informatika BERSAMA STIMIKOM STELLA MARIS SUMBA

Pulau Sumba di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) belum lama ini terpilih sebagai “Pulau Terindah di Dunia” versi majalah Focus terbitan Jerman. Terpilihnya Sumba sebagai pulau terindah itu heboh, membanggakan dan sempat mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Pemerintah propinsi NTT dan kabupaten se-daratan Sumba bahkan melihat apresiasi dari majalah asing itu menjadi cambuk untuk terus menata diri dan terutama harus menyiapkan Sumber Daya Manusia yang linear dengan pontensi daerah. Hal itu dikarenakan selain menata dan merawat pulau Sumba yang seksi karena pesona wisatanya, kesiapan SDM menjadi kebutuhan mutlak. Hanya dengan memiliki SDM yang mengerti teknologi informasi dan komputer dipastikan orang Sumba bisa mengelola potensi itu menjadi kekuatan lokal yang bisa mensejterakan daerah dan masyarakatnya. Jajaran pemerintah, swasta dan berbagai komponen sudah saatnya bersinergi untuk membangun Sumba menjadi sebuah destinasi wisata, pusat inovasi dan daerah tujuan investasi yang maju dan berdaya saing global. Munculnya kampus-kampus yang menjadi laboratorium pengembangan SDM berbasis Informasi Teknologi dan Komputer menjadi solusi terbaik memajukan Sumba yang saat ini makin mendunia.

Wisuda Perdana Mahasiswa Stimikom Stella Maris Sumba tahun 2017

Kehadiran Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Komputer (STIMIKOM)  STELLA MARIS di Sumba Barat Daya patutlah diapresiasi karena lembaga ini mencoba menjawabi kebutuhan orang Sumba akan SDM yang benar-benar mengusai jaringan informasi teknologi dan kumputer. Harus diakui sejak dimekarkan dari 2 menjadi 4 kabupaten, pulau Sumba membutuhkan kesiapan SDM yang tidak sedikit. SDM yang dibutuhkan juga harus betul-betul sesuai dengan trend pasar kerja saat ini. Kalau bicara Sumba sebagai daerah tujuan wisata baru, pusat investasi dan ekonomi, pusat perkebunan dan peternakan maka harus diikuti dengan semangat lembaga pendidikan tinggi untuk menyiapkan kebutuhan sumber daya manusia yang tepat sasaran. Itulah kira-kira visi misi dan alasan mengapa manajemen lembaga itu mau menghadirkan STIMIKOM di daerah itu.

STIMIKOM Stella Maris Sumba hadir sejak 9 Januari 2014 dan telah mengantongi izin dari Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) RI dengan program studi Manajemen Komputer dan Manajemen Informatika. Lembaga pendidikan ini didirikan oleh Yayasan Pendidikan St.Yosep Freinademetz Kupang yang diketuai Drs. Aleksander Adiz dan Ny. Loudya Peoguety sebagai Pembina Yayasan. Sebagai bukti keseriusan lembaga ini, pihak yayasan telah membangun kampus milik sendiri yang beralamat di Jalan Pastoran No.5 Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya. Selain gedung kuliah, fasilitas ruang belajar, ada laboratorium komputer dan jaringan yang siap meningkatkan skill lulusan. Yayasan ini juga didukung puluhan orang tenaga dosen berkualifikasi magister dan beberapa calon magister yang tengah menyelesaikan studinya di Jawa

Dengan adanya izin dari Dikti dan juga Pemkab Sumba Barat Daya maka Stimikom Stella Maris Sumba secara otomatis diakui keberadaannya untuk menyelenggarakan pendidikan di Sumba. Selama 4 tahun kehadirannya, Stimikom Sumba telah menyedot lebih dari 600 orang mahasiswa. Ratusan mahasiswa program reguler dan izin belajar itu memilih Stimikom Stella Maris sebagai kampus tempat mereka mengenyam pendidikan. Ada dua alasan  yakni pertama kampus Stimikom telah resmi mendapatkan izin prinsip dan izin operasional dari Pemerintah juga memiliki kualifikasi tenaga dosen dan dukungan fasilitas kampus yang memadai. Melalui proses pendidikan yang memadai itulah maka tidaklah mengherankan jika kampus ini telah melahirkan lulusan perdananya. Sebanyak 45 orang mahasiswa angkatan pertama dari STIMIKOM Sumba telah diwisuda pada tanggal 17 Oktober 2017 menjadi Ahly Madya Manajemen Komputer (Diploma III). Sebagaimana regulasinya maka wisuda perdana dari kampus baru Stimikom Stella Maris terlaksana atas kerjasama dengan kampus STIM/Stimikom Kupang. Pihak yayasan bahkan pada Oktober 2018 ini bertekad untuk membereskan pengurusan akreditasi lembaga sebagaimana syarat Dikti dan juga akreditasi program studi di Badan Akreditasi Nasional sehingga tahun depan Stimikom Stella Maris sudah bisa melaksanakan wisuda sendiri.

“Tahun ini kami berjuang untuk akreditasi sebagaimana regulasi yang ada dan disyaratkan pemerintah terutama memenuhi tuntutan dikti. Sisi lain juga menjadi syarat akademis agar dapat melakukan wisuda sendiri. Rencana pada September 2018  kami akan berjuang lagi untuk akreditasi Prodi Informatika Komputer oleh Badan Akreditasi Nasional di  Jakarta. Mudahan dengan kemurahan Tuhan semua proses ini bisa berjalan dengan lancar,” ujar Pembina Yayasan Ny. Lidua  Panggoety kepada Fortuna di Kupang belum lama ini.

Terpanggil Membangun Sumba Lewat pendidikan

Komitmen Drs.Aleksander Adis selaku Ketua Yayasan Pendidikan St. Yosep Freinademetz dan Ny. Lidia sebagai Pembina Yayasan dalam konteks pengembangan Sumber Daya manusia di NTT terutama di pulau Sumba sudah tidak diragukan lagi. Mereka nampak sigap dengan sistim menjemput bola ketika pemerintah kabupaten Sumba Barat memekarkan 2 kabupaten baru yakni kabupaten Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya. Yayasan terpanggil untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan daerah itu dengan menyiapkan SDM berkualitas.

“Kami terpanggil untuk menyiapkan sumber daya manusia di bidang informatika dan komputer. Kehadiran lembaga pendidikan tinggi ini seiring dengan terbentukanya kabupaten baru di SBD dan Sumba Tengah. STIMIKOM hadir dengan program studi Manajemen Komputer dan Manajemen Informatika. Urusan informatika teknologi dan komputer saat ini sudah menjadi kebutuhan vital. Siapa yang tidak menguasai teknologi dan informatika maka ia akan ketinggalan zaman. Kami ingin membantu pemerintah menyiapkan SDM handal dibidang itu,” ujar  Ketua Yayasan St. Yosep Freinademetz, Aleksander Adiz kepada Fortuna di Kupang belum lama ini.

Aleks berharap dengan semakin banyak generasi muda Sumba mengerti teknologi dan informatika komputer maka pulau Sumba yang begitu eksotis dengan segala potensinya bisa dibangun lebih baik dan berdaya saing. Generasi muda Sumba harus bisa berkompetisi dengan sesama saudaranya dari kota-kota lainya di tanah air Indonesia karena menguasai teknologi.

Sementara Pembina Yayasan Ny. Lidia mengatakan untuk menyelenggarakan sebuah pendidikan tinggi membutuhkan semangat serta sumber daya dana yang besar. Itu semua hanya bisa berjalan baik kalau ada sinergi antar semua komponen yang memiliki kesamaan hati untuk membangun sumber daya manusia. Untuk itu dia berharap dukungan terutama dari pemerintah kabupaten di Sumba, pemerintah propinsi dan pusat untuk pengembangan lembaga pendidikan itu kedepan. Dukungan berupa dana operasional, saran prasarana juga juga beasiswa bagi para mahasiswa dan dosen untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Manakala semua pihak memiliki komitmen yang sama maka proses perkulihan bisa lebih mantap, profesional dan mampu melahirkan generasi muda yang unggul untuk membangun daerah Sumba, NTT dan Indonesia.

Lidia juga berharap kerjasama dan dukungan dari Pemkab, Pemda NTT dan pemerintah pusat juga Kopertis Wilayah 8 terkait ketentuan dan aturan main dalam mendirikan sebuah lembaga. Hal ini sangat beralasan karena urusan menyiapkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah tanggungjawab bersama semua komponen termasuk pemerintah pada semua level.

“Ada aturan main pasti kita penuhi tetapi tetap bertahap karena ini adalah lembaga yang terus berbenah. Maksud kita minimal ada toleransi karena visi misi kita mulia untuk pengembangan SDM dan tidak semta-mata berorentasi bisnis. Apresiasi kepada yayasan juga sangat kita butuh. Ini tanggungjawab bersama dan mesti ada integrasi perhatian dan dukungan dari pemerintah pusat sampe daerah,” tegas Lidia yang adalah Kabag di Biro Humas Setda Propinsi NTT ini.

 

Buka Kampus B di Waikabubak

Kurang lebih 4 tahun beroperasi dan melaksanakan proses perkuliahan di kampus milik sendiri yang beralamat di jalan trans Tambolaka Sumba Barat Daya, lembaga ini nampak prospektif. Minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di Stimikom Stella Maris makin tinggi. Data jumlah mahasiswa yang saat ini kuliah di dua program studi itu berkisar 600 orang.  Mereka dibimbing oleh puluhan orang dosen berijazah magister dan juga strata I yang sebagiannya juga adalah alumni Stikom Uyelindo Kupang. Kesiapan SDM tenaga pengajar dan beberapa perangkat itu juga dalam kerangka mendukung pembukaan kampus B di kota Waikabubak, Ibukota kabupaten Sumba Barat.

Pembina Yayasan Lidia Penguety menyatakan tekad dan komitmennya untuk memperbanyak tenaga dosen untuk menyelesaikan program magisternya. Hal ini untuk meningkatkan ratio dosen dan mahasiswa sekaligus mengantisipasi lonjakan mahasiswa pada tahun akademik 2018/2019. “Kita telah swadaya biayai 4 orang dosen yang telah selesaikan pasca sarjananya dan tahun ini 4 orang lagi di Unika Atmajaya. Komitmen ini terus kita jaga, syukuri dan tentunya kita berdoa Tuhan buka jalan sehingga rencana untuk menghadirkan Stimikom Stella Maris Kampus B di Waikabubak Sumba Barat mendapat dukungan penuh dari masyarakat dan Pemda Sumba Barat sehingga tahun ini bisa beroperasi,” ujar wanita yang selalu tampil energik ini.

Saat ini kata Lidia, semua persyaratan soal ration dosen-mahasiswa dan dukungan sarana prasarana perkulihan terpenuhi melalui gedung kampus yang menyediakan 10 ruang kuliah, laboratorium komputer, ruang rektorat dan ruang dosen serta fasilitas pendukung lainnya. Sistim kuliah Stimikom Stella Maris juga dibagi 2 yakni sift pagi sore dan juga menerima mahasiswa tugas belajar dari berbagai intansi baik pemerintah maupun swasta.

Untuk diketahui, Stimikom Stella Maris Sumba sebagai jawaban Tuhan atas kerinduan keluarga besar Aleksander Adis dan Ny. Lidia untuk turut serta membangun kampung halamannya. Tergerak oleh visi misi sosial itu makan jauh hari sebelum menghadirkan Stimikom itu,  keluarga ini sudah merintis sebuah sekolah kesehatan yang diberinama SMK San Jose Tambolaka yang saat ini telah berkiprah 10 tahun lebih. Sekolah ini menjadi motivasi dan juga cikal bakal hadirnya juga Pendidikan Tinggi Stimikom Stella Maris. Soal pengalaman mengelola lembaga perguruan tinggi tentu tidak diragukan lagi. Apalagi Aleksander  Adis adalah tokoh dan sosok yang telah lama berkecimpung didunia pendidikan dan menjadi salah satu perintis berdirinya Stikom Uyelindo Kupang yang saat ini mentereng bersama pak Bruno Sukanto. (fdl/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *